Rabu Sore, Rupiah Berbalik Menguat Jelang Hasil Rapat The Fed

Rupiah - www.moneysmart.idRupiah - www.moneysmart.id

Rupiah ternyata mampu berbalik menguat pada Rabu (26/9) sore ketika pasar menantikan keputusan rapat yang diprediksi bakal menaikkan acuan. Menurut catatan Bloomberg Index pukul 15.59 WIB, Garuda ditutup menguat 7 poin atau 0,05% menuju level Rp14.911 per AS.

Sementara itu, Bank Indonesia siang tadi menetapkan berada di posisi Rp14.928 per dolar AS, terdepresiasi 45 poin atau 0,30% dari perdagangan sebelumnya di level Rp14.893 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mata uang bergerak mixed versus , dengan kenaikan tertinggi sebesar 0,25% dialami won Korea Selatan dan pelemahan terdalam sebesar 0,15% menghampiri baht .

Dari pasar , indeks dolar AS masih bergerak lebih tinggi terhadap sekeranjang mata uang utama pada hari Rabu, ketika investor menantikan keputusan Federal Reserve di tengah meningkatnya tensi perdagangan antara AS dan China. Mata uang Paman Sam terpantau menguat tipis 0,005 poin atau 0,01% menuju level 94,138 pada pukul 11.06 WIB.

Seperti diberitakan Reuters, The Fed dijadwalkan akan mengakhiri pertemuan dua hari mereka pada hari ini waktu setempat, yang diprediksi bakal menaikkan suku bunga acuan untuk kedelapan kalinya sejak akhir tahun 2015 lalu. Investor pun memperkirakan bank sentral AS bakal kembali menaikkan suku bunga sebelum akhir tahun, meski prospek untuk tahun 2019 masih kabur.

Dolar AS sendiri telah menikmati dorongan dalam beberapa bulan terakhir, menyusul tensi perdagangan antara Paman Sam dan Negeri Tirai Bambu yang tidak kunjung mereda. Perselisihan dagang antara AS dan China yang terus memanas memicu ketidakpastian tentang prospek pertumbuhan global dan kebijakan moneter untuk beberapa ekonomi di emerging market.

“Selera untuk aset berisiko telah sedikit meningkat karena dampak total AS terhadap barang-barang asal China masih relatif kecil,” terang analis utama mata uang di MUFG Bank, Minori Uchida. “Selama pada tingkat tersebut, dampaknya mungkin tidak akan begitu besar. Stok AS sedang naik dan sentimen risiko adalah penggerak utama yang melemahkan yen.”

Loading...