Rabu Sore, Rupiah Berakhir Turun Tipis Saat Dolar Drop

Rupiah - en.tempo.coRupiah - en.tempo.co

Meski dibuka di area hijau, namun harus berbalik melemah pada penutupan Rabu (5/9) ini, justru ketika indeks AS bergerak lebih rendah terhadap sekeranjang mata uang utama. Menurut laporan Index pukul 15.59 WIB, mata uang Garuda menyudahi dengan turun tipis 3 poin atau 0,02% ke level Rp14.938 per AS.

Sementara itu, siang tadi mematok tengah berada di posisi Rp14.927 per dolar AS, terdepresiasi 87 poin atau 0,58% dari perdagangan sebelumnya di level Rp14.840 per dolar AS. Di saat yang hampir bersamaan, mata uang Asia variatif versus greenback, dengan kenaikan tertinggi sebesar 0,07% menghampiri rupee India dan pelemahan terdalam sebesar 0,13% dialami won Korea Selatan.

Dari pasar global, indeks dolar AS terpantau bergerak lebih rendah terhadap sekeranjang mata uang utama dunia, sedangkan dolar Australia naik menyusul laporan yang menunjukkan negara itu mencatatkan pertumbuhan terbaik dalam enam tahun. Mata uang Paman Sam terpantau melemah 0,093 poin atau 0,10% ke level 95,346 pada pukul 10.57 WIB, setelah kemarin berakhir menguat.

Dilansir Reuters, meski mengalami penurunan, namun pelemahan dolar AS relatif terbatas karena para tetap setia pada greenback sebagai aset safe haven di tengah kewaspadaan menjelang tenggat waktu dalam konflik perdagangan antara AS dan . Presiden Donald Trump dipercaya akan meneruskan rencana untuk mengenakan tarif baru pada produk asal senilai 200 miliar dolar AS.

“Trump biasanya akan melakukan apa yang dia katakan dalam satu bentuk atau lainnya, jadi saya berpikir tarif impor akan diterapkan,” kata ekonom pasar di Sumitomo Mitsui Trust Bank, Ayako Sera. “Pasar global tentunya akan terkejut jika Trump ternyata tidak melakukan apa-apa seperti yang pernah dia sampaikan.”

Di belahan dunia yang lain, pertumbuhan ekonomi Australia dilaporkan mengalami kenaikan sebesar 0,9% pada kuartal kedua 2018, setelah sebelumnya telah naik 1% di kuartal pertama. Tingkat pertumbuhan tahunan mencetak 3,4%, mengalahkan angka yang diharapkan sebesar 2,8%, sekaligus menyokong nilai tukar mata uang setempat sebesar 0,3%. “Setelah dolar Australia naik, mata uang lainnya juga menguat,” ujar ahli mata uang senior di Daiwa Securities, Yukio Ishizuki.

Loading...