Pusat Pertumbuhan & Inovasi Baru, Migran dan Uang Mengalir ke Asia

Kota Guangdong - www.chinadaily.com.cnKota Guangdong - www.chinadaily.com.cn

SHENZEN/MUMBAI/TOKYO – Kawasan Asia belakangan ini telah berkembang menjadi pusat dan baru. Banyak pengusaha ambisius tertarik ke kota-kota di negara-negara Asia yang baru muncul, karena mereka melihat peluang yang menguntungkan dalam menggunakan teknologi untuk menutupi kesenjangan dalam yang ada.

Dikutip dari Nikkei, Laurent Le Pen ditugaskan ke Shenzhen sebagai insinyur oleh perusahaan telekomunikasi Prancis pada 2007 lalu. Dia awalnya menganggap kota di Provinsi Guangdong ini hanya sebagai kota metropolitan yang baru muncul di Asia, tetapi ia segera menemukan dirinya terpesona oleh energi dan kecepatannya.

Terinspirasi oleh dinamika Shenzhen, Le Pen keluar dari perusahaan Prancis pada 2013 untuk meluncurkan bisnis sendiri, yang menjual perangkat seluler yang memantau kesehatan dan keselamatan orang tua. Pada tahun 2016, Le Pen lantas mendirikan perusahaan teknologi kesehatan lainnya, kali ini berbasis sikat gigi sonik yang mengirimkan ke aplikasi smartphone. Perusahaan ini telah menjual 500.000 sikat gigi di 70 negara dan wilayah, berencana menggandakan penjualannya menjadi 1 juta tahun ini.

Le Pen bukanlah satu-satunya pengusaha asal belahan Bumi bagian barat yang tertarik pada energi di Shenzhen, yang semakin menantang Silicon Valley sebagai rumah bagi para pemula. Kota ini telah menjadi magnet bagi bakat dan bisnis asing, termasuk Apple, yang mendirikan basis penelitian dan pengembangan di kota tersebut pada 2017 lalu.

Tetapi, Shenzhen tidak sendirian dalam menarik pengusaha asing ke Asia. Ron Hose, seorang warga AS kapitalis ventura di Silicon Valley, pindah ke Manila pada 2012 untuk meluncurkan layanan pembayaran mobile dan pengiriman uang , setelah mengetahui bahwa banyak orang di Filipina tidak memiliki rekening bank. Dengan layanan pembayaran dan pengiriman uang berbasis smartphone, Hose memanfaatkan permintaan dari orang Filipina yang bekerja di luar negeri, yang menyumbang sekitar 10 persen dari ekonomi negara. “Tempat untuk inovasi adalah Asia,” katanya.

Sementara itu, Greg Moran, yang mengoperasikan perusahaan rental mobil di India, mengunjungi negara di kawasan Asia Selatan itu pada 2011 untuk pertama kalinya. Dia dikejutkan oleh kondisi transportasi yang kurang berkembang di sana, memerhatikan beberapa orang menumpuk becak kecil atau bahkan dengan sepeda motor tunggal. Dia tahu bahwa itu adalah waktu yang tepat untuk memulai bisnis mobilitas di sana.

Lebih dari 4 juta mobil baru dijual di India per tahun. Tetapi, hanya 2 persen dari 1,3 miliar populasi yang memiliki mobil sendiri, yang berarti bahwa permintaan untuk mobil sewaan dan layanan berbagi mobil cukup kuat. Dengan populasi yang meluas dan lebih melek digital, menunjukkan ruang untuk pasar baru di aplikasi lokasi dan layanan pembayaran. “Saya benar-benar tidak ingin melewatkan kesempatan untuk menjadi penggerak pertama di pasar yang besar dan pertumbuhan tinggi,” ujar Moran.

Setelah beberapa dekade berusaha mengejar ketinggalan dengan dunia maju melalui manufaktur, Asia telah menjadi pusat inovasi utama. Kekuatan utama di balik transformasi ini adalah 4 miliar konsumen di kawasan tersebut, kira-kira setengah dari populasi global. Kota-kota yang padat di Asia memang akar dari berbagai masalah perkotaan, mulai polusi hingga kemacetan lalu lintas, tetapi mereka juga menghasilkan sejumlah besar data yang mendukung pertumbuhan ekonomi digital.

Di Provinsi Chanthaburi, Thailand, sebuah wilayah yang terkenal dengan buah-buahan tropis, petani setempat telah merasakan kekuatan transformatif dari revolusi digital yang menyebar di seluruh Asia. Lonjakan ekspor telah melipatgandakan durian yang diproduksi di Thailand, meningkatkan pendapatan petani selama musim panen pada tahun 2018 menjadi sekitar 30 juta baht (945.000 AS).

Platform belanja online Alibaba telah menghasilkan ledakan besar dalam permintaan China untuk buah yang enak dan berbau kuat ini. Ketika Ketua Alibaba, Jack Ma Yun, mengunjungi Thailand pada bulan April 2018 lalu, ia mengejutkan para pejabat pemerintah Thailand karena berhasil menjual 80.000 durian lokal hanya dalam satu menit melalui situs belanja Alibaba.

Sementara Alibaba sedang mengejar rencana besarnya untuk ekspansi global, platform jejaring sosial yang berkembang pesat juga membantu individu-individu di banyak negara Asia dalam menjual produk mereka dengan cara-cara yang sebelumnya hanya bisa dicapai oleh retailer mapan. Sekitar 30 juta pengguna individu menjual barang melalui WeChat, platform pengiriman pesan dan media sosial China, sedangkan Facebook telah menjadi sarana populer untuk transaksi penjualan eceran di Thailand dan Vietnam.

Belanja online lintas batas telah meledak di kawasan Asia-Pasifik dalam beberapa tahun terakhir, menurut perkiraan oleh Alibaba dan Accenture. Pada tahun 2020, volume transaksi internasional melalui internet di wilayah ini akan menjadi 170 persen lebih banyak daripada di Amerika Utara dan 120 persen lebih banyak dari Eropa, menurut perkiraan perusahaan-perusahaan ini. Padahal, pada 2014, angka-angka untuk ketiga wilayah itu kira-kira berada pada level yang sama.

Ada banyak ruang tersisa untuk tumbuh. Asia menyumbang 50 persen dari populasi dunia dan 30 persen dari ekonomi dunia. Tetapi, pada tahun 2050, ukuran ekonomi Asia diprediksi akan tumbuh menjadi setengah dari total dunia, menurut proyeksi Bank Pembangunan Asia (ADB). Karena mempersempit kesenjangan, wajah ekonomi kawasan diperkirakan akan terus berubah dengan cepat.

“Negara-negara Asia berkontribusi sekitar 50 persen, terkadang lebih, dari pertumbuhan global,” kata Valerie Mercer-Blackman dari ADB. “(Mereka) dimasukkan ke dalam semua rantai nilai global ini. Dan, bahkan ketika manufaktur tradisional diubah oleh otomatisasi, perusahaan mereka akan dapat berkembang lebih cepat, sehingga akan menciptakan lebih banyak lapangan kerja, melalui ekspansi dan melalui permintaan.”

Loading...