Punya Hacker Terlatih, Korea Utara Penyebar Virus Ransomware WannaCry?

Kim Heung-kwang, pendiri dan direktur NK Intellectuals Solidarity - www.japantimes.co.jpKim Heung-kwang, pendiri dan direktur NK Intellectuals Solidarity - www.japantimes.co.jp

SEOUL – Utara disebutkan benar-benar mampu meluncurkan serangan cyber menggunakan ransomware ‘WannaCry’ yang telah melumpuhkan dan badan di seluruh dunia sejak minggu lalu, dengan modal sampai 3.000 hacker terlatih yang siap menyerang. tersebut juga memiliki bakat dan perangkat lunak kelas dunia yang telah ‘dipelihara’ sejak tahun 1960-an.

Ransomware adalah jenis perangkat lunak berbahaya yang memblokir akses ke komputer, menampilkan pesan yang meminta pembayaran uang tebusan untuk membukanya. WannaCry ransomware digunakan untuk menginfeksi lebih dari 300.000 komputer di 150 negara sejak 12 Mei lalu, yang oleh beberapa pakar keamanan dunia telah dikaitkan kembali dengan Korea Utara.

“Beberapa orang mengecilkan teknologi komputer Korea Utara, namun mereka memiliki teknologi perangkat lunak kelas atas,” ujar Kim Heung-kwang, pendiri dan direktur NK Intellectuals Solidarity, sebuah organisasi nirlaba yang mempromosikan hak-hak para pembelot Korea Utara. “Jika Anda bertanya kepada saya apakah mereka bisa melakukan hack dengan uang tebusan, jawabannya 100 persen iya.”

Pria yang kini berdagang kopi tersebut menambahkan bahwa beberapa kode, yang digunakan dalam serangan ransomware WannaCry terakhir, sama persis dengan kasus yang ditemukan di Nonghyup, koperasi pertanian Korea Selatan yang menawarkan ritel dan keuangan yang servernya diretas pada tahun 2011 lalu. Jaksa Penuntut Umum kala itu menyimpulkan bahwa serangan tersebut adalah cyber terror yang dilakukan oleh Korea Utara.

“Pemerintah Korea Utara di Pyongyang telah mengumpulkan ‘tentara’ hacker atau ‘pemberi informasi’, sebagai bagian dari strategi untuk menghasilkan uang, dan juga untuk menyerang musuh,” imbuh Kim. “Pyongyang telah memperoleh 1,5 miliar AS dari kegiatan hacking dan aktivitas cyber lainnya, naik dari 1 miliar AS di tahun sebelumnya.”

Karena itu, peretas menerima perlakukan khusus di Korea Utara. Menurut Kim, kekhawatiran informasi diperlakukan dengan sangat baik, dan para peretas ini ditawari apartemen yang bagus di Pyongyang, diberi medali dan kompensasi, dipromosikan dengan cepat, dan diizinkan bergabung dengan Partai Buruh.

“Sekitar 500 siswa sekolah menengah atas dipilih sebagai calon hacker setiap tahunnya dan dikirim ke perguruan tinggi,” sambungnya. “Mereka menjalani pelatihan keras, diajarkan untuk menghafal bahasa komputer, dan beberapa di antaranya diberi kesempatan untuk belajar di luar negeri, seperti di dan Rusia, untuk mendapatkan keuntungan di luar jangkauan kebanyakan orang Korea Utara.”

Meski demikian, Kim mengakui masih ada kekurangan bukti bahwa Korea Utara berada di balik serangan WannaCry terbaru karena ada kemungkinan kelompok lain menggunakan kode yang sama. “Saya menduga pelakunya itu adalah Korea Utara, tetapi tidak ada bahan untuk membuktikan hal ini,” pungkas pria yang pernah menjabat sebagai profesor di Hamheung Computer Technology University itu.

Loading...