Psy War, Gunakan ‘Robot’ untuk Menangkan Polling Pilpres di Twitter

Polling Pilpres - @ Ismail FahmiPolling Pilpres - @ Ismail Fahmi

JAKARTA – Setelah pasangan Joko Widodo-Ma’ruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno diumumkan sebagai dan wakil , polling pun bermunculan di , terutama . Sayangnya, banyak yang menggunakan ‘robot’ untuk memenangkan polling pasangan yang didukung, yang tujuan utamanya adalah sebagai psy war terhadap kubu lawan.

“Kemarin siang (14 Agustus 2018), saya melihat ada hashtag yang sedang trending, dan menarik perhatian saya, yaitu #JokowiMenang80Polling,” tulis Ismail Fahmi, fouder Media Kernels Indonesia, dalam pribadinya. “Awalnya, saya tidak paham apa maksudnya, sampai kemudian saya diwawancara oleh salah satu wartawan Tirto dan mendapat pertanyaan dari wartawan CNN Indonesia. Ternyata, lagi heboh soal ‘robot’ yang dipakai untuk memenangkan polling.”

Untuk menjawab pertanyaan kedua wartawan tersebut, Fahmi pun melakukan melalui dua kata kunci, yaitu #JokowiMemang20Polling dan ‘Polling’ AND ‘robot’. Tujuan dia adalah ingin mengetahui siapa yang membuat hashtag tersebut trending, dan untuk tujuan apa. Selain itu, juga untuk mengetahui siapa yang sedang mengangkat isu adanya ‘robot’ yang dipakai untuk polling.

“Dalam peta SNA, ada dua cluster, yang memperlihatkan kubu mana yang menggunakan keyword tersebut,” sambung Fahmi. “Cluster kiri, ada akun RestyCayah, yang dikenal sebagai KOL kubu PS-SSU. Top user di cluster ini adalah Elang_Sutajaya1, mendapat paling banyak retweet, dan yang diangkat adalah topik ‘Robot Polling’. Sementara, cluster kanan ada akun DukungCakimin, Kuwera_ID, yang dikenal dari kubu JKW-MA. User biawak_buas paling banyak mendapat retweet. Mereka memviralkan #JokowiMenang80Polling.”

Dari tabel most retweeted untuk #JokowiMenang80Polling, menurut analisis Fahmi, user biawak_buas menampilkan sebuah berisi berbagai polling yang dimenangkan oleh JKW-MA, sedangkan PAS kalah telak. Sementara, dari tabel most retweeted untuk ‘Robot Polling’, user Elang_Sutajaya1 menampilkan screenshot bukti bagaimana dari waktu ke waktu sebuah polling yang menunjukkan PAS menang telak, lalu pada waktu tertentu dengan cepat berbalik pada kemenangan JKW-MA.

“Dari SNA dan analisis topik ini, saya jadi paham. Kubu yang satu ternyata sedang menjalankan misi memenangkan Jokowi dalam 80 polling,” lanjut Fahmi. “Sementara, kubu yang satunya sedang melaporkan dan curiga kalau polling-polling yang awalnya mereka menangkan ternyata kalah dalam injury time.”

Fahmi menuturkan, ada banyak orang yang menyediakan untuk ‘pemenangan polling’ di Twitter. Cara kerjanya, si buzzer sudah memiliki puluhan ribu hingga ratusan ribu akun ‘robot’. Pada saat sebuah polling Twitter dilakukan, mereka melihat posisi target. Dalam waktu yang tepat, ribuan atau puluhan akun digunakan untuk melakukan vote salah satu target.

“Yang kritikal adalah saat-saat menjelang voting berakhir,” tambah Fahmi. “Mereka mengerahkan sisa kekuatan untuk mendapatkan hasil vote tertinggi. Kubu yang tidak siap dengan ‘robot’, dan hanya mengandalkan user natural, pasti tidak akan bisa mengejar dalam waktu hanya beberapa menit saja. Akhirnya, yang pakai ‘robot’ yang akan menang.”

Meski polling di media sosial seperti di Twitter dan Facebook ini tidak ilmiah dan tak bisa dipertanggungjawabkan, namun tetap ada gunanya, yaitu untuk psy war. Jika banyak polling dimenangkan, khususnya yang dibuat oleh figur terkenal, hasilnya jika di-screenshot dan di-share akan memberi kemenangan psikologis. “Bisa memengaruhi sebagian publik, meyakinkan mereka bahwa banyak orang telah memilih kubu X atau Y,” pungkas Fahmi.

Sementar itu, pakar statistik IPB, Khairil Anwar Notodiputro, memberikan penjelasan mengenai hasil polling di Twitter. Menurutnya, hasil polling di Twitter tidak bisa dipercaya dan hanya sekadar dibuat sebagai penghibur. “Pada umumnya, polling di Twitter tidak sahih secara metodologi, jadi tidak usah dipercaya, cukup jadikan lucu-lucuan dan/atau hiburan saja,” kicau Khairil di akun Twitter-nya.

Loading...