Minggu Kedua PSBB Jakarta, Rupiah Lanjut Menguat

Rupiah menguat pada perdagangan Senin (21/9) pagi - market.bisnis.com

Rupiah melanjutkan penguatan pada Senin (21/9) pagi ketika PSBB (pembatasan sosial berskala besar) DKI Jakarta memasuki pekan kedua. Menurut data Index, Garuda membuka transaksi dengan menguat 65 poin atau 0,44% ke level Rp14.670 per AS. Sebelumnya, spot sudah ditutup naik 97,5 poin atau 0,66% di posisi Rp14.735 per AS pada akhir pekan (18/9) kemarin.

“Rupiah berpotensi melanjutkan penguatan meskipun di rentang yang cenderung sempit,” tutur Direktur TRFX Garuda Berjangka, Ibrahim, seperti dilansir Bisnis. “Pengetatan sosial pada sepekan terakhir sebenarnya tidak terlalu berdampak signifikan terhadap aktivitas keseharian warga Jakarta. Di sisi lain, pemerintah juga menggelontorkan sejumlah stimulus agar konsumsi masyarakat terus berjalan.”

Menurutnya, langkah pemerintah untuk membentuk badan penanggulangan kasus penyebaran COVID-19, yang diimbangi dengan keputusan Bank Indonesia untuk mempertahankan acuan, cukup bijak dalam hal menjaga pergerakan rupiah tetap stabil di tengah krisis ekonomi . Meski demikian, ia menilai pelemahan daya beli masyarakat mengakibatkan uang yang beredar saat ini masih kecil dibandingkan dengan periode sebelum pandemi.

Sementara itu, Direktur Anugerah Mega Investama, Hans Kwee, dikutip Detik Finance, berpandangan sebaliknya. Revisi UU Bank Indonesia yang sedang digodok DPR justru memberikan sentimen negatif karena mengancam independensi bank sentral. Hal itu menjadi salah satu dari tiga sentimen yang memengaruhi pergerakan rupiah, yakni kekhawatiran tentang pertumbuhan ekonomi Indonesia yang akan memasuki resesi dan meningkatnya kasus COVID-19.

“Namun, keputusan BI mempertahankan suku bunga acuan kemarin merupakan bentuk upaya menjaga stabilitas dalam mendukung perekonomian Indonesia, dan membuat rupiah akan lebih stabil,” katanya. “Data yang baik juga ditunjukkan Badan Pusat Statistik (BPS) yang melaporkan neraca perdagangan Agustus 2020 kembali mencatatkan surplus sebesar 2,33 miliar dolar AS.”

Dari sisi eksternal, Kongres dan DPR AS masih belum menemukan kesepakatan atas RUU stimulus fiskal untuk mengantisipasi baru yang diperkirakan senilai 1,5 triliun dolar AS. Tarik ulur politik masih terus terjadi. Jika terjadi kesepakatan, diharapkan mampu menjadi sentimen positif yang mendorong indeks-indeks dunia naik dan melemahkan nilai tukar dolar AS.

Loading...