Proyek Infrastruktur, Negara Afrika Alami Krisis Utang Akut

Negara Afrika Alami Krisis Utang Akut - internasional.kompas.comNegara Afrika Alami Krisis Utang Akut - internasional.kompas.com

-negara di Afrika kembali mengulang krisis beban utang terburuk sejak tahun 2001 silam. seperti pembangunan jalan, kereta api, dan pelabuhan, yang membutuhkan tidak sedikit, menjadi sumber utang utama bagi banyak negara di Benua Hitam. Selain itu, pinjaman luar negeri yang mudah namun dengan bunga tinggi membuat krisis utang Afrika semakin akut.

Seperti diberitakan DW, berdasarkan dari kelompok asal Inggris, Jubilee Debt Campaign, pada tahun 2017 kemarin, utang luar negeri Afrika mencapai level tertinggi sejak tahun 2001 silam. Sementara, menurut laporan World Bank (Bank Dunia), delapan belas negara sedang mengalami krisis utang akut atau berada di tepi jurang.

“Saya pikir jatuhnya atau fluktuasi komoditas dalam dua tahun terakhir telah memengaruhi arus masuk pendapatan sejumlah negara Afrika,” ujar seorang analis di African Forum and Network on Debt and Development (AFRODAD), Tirivangani Mutazu. “Ini telah menyebabkan defisit yang sangat besar, sehingga terpaksa meminjam, terutama dari sektor komersial.”

Alasan lainnya adalah bahwa Afrika sangat membutuhkan jalan, kereta api, atau pelabuhan. Tanpa infrastruktur, tidak akan ada pembangunan dan tidak cukup pekerjaan bagi jutaan orang muda di kawasan ini. Ada kekurangan biaya pembangunan sebesar 93 miliar dolar AS menurut South African Institute of International Affairs (SAIIA). Akibatnya, banyak pemerintah yang berutang. Kenya misalnya, membiayai proyek sambungan rel baru antara Mombasa dan Nairobi senilai 4 miliar dolar AS melalui kredit China.

Uang memang mudah didapat dalam beberapa tahun terakhir. Selain dari donor reguler seperti negara Eropa atau IMF, negara-negara baru telah muncul. Tingkat suku bunga yang secara historis rendah di Eropa membuat investor swasta bersemangat mengincar peluang baru, dan menemukan negara-negara Afrika dalam prosesnya. China juga memainkan peran, dengan 14 persen dari keseluruhan utang Afrika adalah ke Beijing, melalui kredit yang mudah.

“Beberapa negara melihat perkembangan positif dan dapat beralih ke pasar modal. Mereka mengambil kredit, sebagian dengan tingkat bunga yang sangat tinggi,” kata direktur eksekutif untuk Jerman di World Bank, Jürgen Zattler. “Sebelumnya, hanya kreditor Paris yang berkumpul di meja. Namun, itu tidak lagi terjadi karena baik kreditur swasta maupun pemain baru seperti China atau Arab Saudi, duduk di meja yang sama.”

Dalam krisis seperti ini, pemberi pinjaman klasik seperti IMF diminta, sekali lagi, untuk membantu. Ghana adalah salah satu negara yang menerima dukungan keuangan tersebut. Ketika utang Afrika mencapai puncaknya pada 1990-an, IMF dan World Bank memberlakukan program reformasi struktural. Perusahaan-perusahaan yang dikelola negara dengan cepat diprivatisasi dan belanja publik ditahan. Karena program-program sosial, di bidang pelatihan atau kesehatan, juga dikenakan pemotongan biaya, orang miskin yang paling terpengaruh.

Meski IMF menekankan bahwa pihaknya ingin mengambil pendekatan yang berbeda untuk kali ini, namun banyak ahli yang tetap menyangsikan. “Ada sejumlah negara yang sudah pergi ke IMF untuk mencari dana talangan. Namun, IMF tentu saja akan menuntut mereka menerapkan langkah-langkah penghematan,” tambah Mutazu.

Loading...