Proteksionisme Trump Khawatirkan Pasar, Rupiah Tancap Gas di Awal Dagang

Sikap proteksionisme makin mengkhawatirkan sehingga laju indeks AS kembali , yang langsung dimanfaatkan rupiah untuk tancap gas di awal dagang. Seperti diwartakan Index, rupiah mengawali hari ini (24/1) dengan menguat 26 poin atau 0,19% ke Rp13.343 per dolar AS. Kemudian, pada pukul 08.27 WIB, spot kembali naik 28 poin atau 0,21% ke posisi Rp13.341 per dolar AS.

Seperti diberitakan, Senin (23/1) waktu AS, Presiden Donald Trump memutuskan menandatangani kebijakan eksekutif untuk menarik diri dari Trans-Pacific Partnership (TPP), meski berjanji untuk menegosiasikan kembali Perjanjian Perdagangan Bebas Amerika Utara (NAFTA) dengan Kanada dan Meksiko. Sikap proteksionisme Trump ini menambah kekhawatiran akan berkurangnya keuntungan dari rencana stimulus fiskal Presiden AS yang baru dilantik 20 Januari lalu.

Imbasnya, indeks dolar AS yang melacak pergerakan greenback terhadap mata uang utama lainnya langsung melorot 0,775 poin atau 0,77% ke 99,965 pada penutupan dagang Senin waktu AS atau Selasa pagi WIB. Pelemahan dolar AS sedikit tertahan usai Kepala wilayah Richmond, Jeffrey Lacker, mengatakan bahwa dirinya lebih memilih kenaikan suku acuan lebih cepat dibandingkan rekan-rekannya.

“Shock yang dikhawatirkan banyak orang terbukti tidak terjadi, bahkan indeks dolar AS masih terus melemah hingga dini hari tadi,” ujar Ekonom Samuel Sekuritas Indonesia, Rangga Cipta. “Hal tersebut membuka peluang bagi mata uang dalam negeri untuk melanjutkan tren penguatannya.”

Ditambahkan Rangga, indeks dolar AS makin anjlok saat Trump meresmikan penarikan diri dari TPP yang bisa menjadi pertanda bahwa dirinya memang tidak begitu suka jika dolar AS terlalu kuat. “Bahkan, meski telah berjanji akan memangkas pajak untuk mendongkrak performa industri manufaktur, langkah Trump tersebut belum memengaruhi harapan kenaikan inflasi serta acuan The Fed,” sambung Rangga.

“Data yang ditunggu adalah rentetan indeks manufaktur dari berbagai yang akan diumumkan hari ini,” imbuh Rangga. “Data tersebut bisa menjadi pertanda prospek pertumbuhan yang juga akan memengaruhi langkah lanjutan bank sentral masing-masing .”

Loading...