Program Tax Amnesty, BCA Pindah Tangan Saham ke Perusahaan Indonesia

JAKARTA – Central () secara mengakui telah terjadi perubahan pemegang tersebut sebesar 13,28 miliar AS atau sekitar Rp177 triliun. Pengamat pasar menilai langkah itu terkait dengan yang sedang dijalankan pemerintahan Joko Widodo serta transparasi kepemilikan saham di bursa.

Dalam laporannya melalui keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), BCA mengatakan telah terjadi perubahan pemegang saham sebesar 11,62 miliar saham atau sekitar 47,15% dari seluruh saham yang telah ditempatkan dan disetor penuh dari Farindo Investment Ltd yang berkedudukan di Mauritus kepada PT Dwimuria Investama Andalan di Kudus, Indonesia pada Jumat (11/11) lalu. Meski demikian, BCA menegaskan tidak terjadi perubahan pengendalian bank.

Para pengamat mengatakan, serupa kemungkinan akan segera mengikuti untuk membantu membongkar struktur kepemilikan buram di pasar saham di Indonesia. “Enam puluh lima persen merupakan domestik, sisanya milik asing. Namun nyatanya, kepemilikan asing lebih tinggi karena banyak orang Indonesia yang memiliki saham melalui entitas asing,” kata Kepala Eksekutif BEI, Tito Sulistio.

“Di masa depan, hal tersebut akan memperjelas siapa pemilik saham selama transaksi di bursa,” sambung Tito. “Akan ada transparasi di pasar saham dan ini telah dimulai oleh BCA.”

Sementara itu, Direktur Eksekutif Center for Indonesia Taxation Analysis, Yustinus Prastowo, menuturkan baha konsekuensi dari amnesti pajak adalah peserta harus mengungkapkan kepemilikan mereka di perusahaan terbuka. Dalam program amnesti, individu yang melaporkan aset mereka dan membayar sebagian kecil dari nilai dibebaskan dari tuntutan pidana.

Sayangnya, juru bicara BCA menolak untuk berkomentar terkait hal ini, sedangkan keluarga Hartono selaku pengendali Farindo tidak bisa dihubungi untuk dimintai konfirmasi. BCA sendiri merupakan bank terbesar ketiga di Tanah Air dengan jaringan sekitar 1.200 cabang di seluruh Nusantara.

Loading...