Produk Impor China Lebih Murah, Berapa Harga Granit Sincere?

Harga, granit, granite, merek, merk, Sincere, produk, impor, China, murah, warna, corak, motif, ukuran, 60X60, krem, broken white, Mitra 10, di, pasaran, industri, lantai, keramik, produksi, konsumen, promo, batuan, mewah, rumah, jenis, kokoh, kompetitif, lokal, importir, batuan,Ilustrasi: rumah dengan lantai granit (sumber: supremecrete.com)

Selama ini, penggunaan lantai dari granit dianggap sebagai sebuah hal yang mewah. Harganya yang tidak murah membuat lantai granit dipandang sebagai sebuah kemewahan. Granit sendiri sebenarnya adalah jenis batuan yang berasal dari magma yang membeku. Dibandingkan dengan jenis lantai lainnya, lantai granit lebih kokoh dan tidak mudah pecah. Permukaannya yang berkilau membuatnya tampak elegan.

Di pasaran, sudah banyak terdapat granit dengan warna dan corak yang bervariasi. Salah satu merk yang bisa Anda pilih adalah Sincere. Selain menghadirkan warna dan yang beragam, granit Sincere yang diimpor dari China juga dijual dalam berbagai ukuran. Setiap ukuran dan warna serta coraknya dibanderol dengan yang berbeda-beda namun tergolong murah.

Granit lantai Sincere krem atau broken white ukuran 60×60 cm biasanya dijual dengan harga Rp55 ribu hingga Rp70 ┬áribu per m2. Sementara untuk warna dan corak lain biasa ditawarkan Rp100 ribuan. Swalayan dan kebutuhan tangga Mitra 10 Batam Center menjual granite Sincere Rp90 ribuan per meter. Akan lebih murah lagi jika konsumen membelinya saat promo.

Untuk harga, impor asal China dinilai lebih murah dibandingkan produk Indonesia. Contohnya adalah granit tile atau porcelain tile. Menurut Ketua Umum Asosiasi Aneka Industri Indonesia (Asaki), Elisa Sinaga, impor dari China itu lebih murah karena gas untuk industrinya lebih murah dibandingkan Indonesia. Oleh karena itu, China dapat menjual produknya rata-rata untuk ukuran 60×60 atau 80×80 seharga Rp 75.000 per m2. Sedangkan untuk Indonesia sendiri bisa lebih mahal di atas itu.

“Di dalam negeri sendiri biaya produksinya nggak bisa segitu karena memang karena harga gas (energi). Tapi kualitasnya memang sedikit berbeda, lumayan jauh,” ujar Elisa kepada detikfinance.

Ia mengatakan saat ini industri di daerah Bandung, Jakarta, Tangerang, dan Sumatera Utara, membeli gas dengan harganya yang lebih tinggi dibandingkan China. “Sekarang kita di Jawa Barat, di Bandung, Jakarta, Tangerang, di kisaran US$ 9,1/MMBtu. Kalau di Sumatera Utara lebih mahal lagi US$ 12/MMBtu. Di China lebih murah, kalau China harga gasnya sekitar US$ 5/MMBtu,” tambah Elisa.

Keramik impor yang masuk Indonesia berasal dari Vietnam dan Thailand. Setali tiga uang dengan China, menurut Elisa, harga gas di Vietnam dan Thailand juga lebih murah dibandingkan Indonesia. Sehingga harganya lebih kompetitif dibandingkan produk lokal.

Selain karena harga gas, yang membuat keramik impor asal China lebih murah karena biaya pengirimannya juga murah. Elisa mengatakan, biaya pengapalan dari China ke Indonesia, misalnya ke Medan, lebih murah dibandingkan dari Jawa dikirim ke Medan. “Biaya transportasi dari China ke Medan misalnya US$ 350-US$ 400 per kontainer. Sedangkan antar Indonesia, dari Jawa ke Medan dikenakan US$ 700-US$ 800 per kontainer,” katanya.

Elisa mengaku khawatir akan terjadi deindustrialisasi akibat banjirnya produk impor. Alhasil, pelaku industri keramik justru lebih memilih menjadi importir karena produk impor lebih kompetitif dibandingkan lokal. “Saya takut terjadi deindustrialisasi. Nanti orang industri di sini berubah menjadi importir. Lebih bagus datangin keramik dari China daripada produksi di sini,” pungkasnya.

Loading...