Probabilitas Kenaikan Fed Rate Meningkat, Rupiah Tergerus 55 Poin di Penutupan

Dolar AS yang kembali menguat seiring meningkatnya probabilitas kenaikan suku bunga The Fed dan spekulasi kemenangan Hillary Clinton dalam putaran kedua debat calon AS membuat mata uang Garuda terjerembab. Menurut Index pukul 15.59 WIB, harus menutup hari ini (11/10) dengan anjlok 55 poin atau 0,42% ke posisi Rp13.032 per dolar AS.

Pelemahan rupiah sudah terjadi sejak awal dagang dengan terdepresiasi 8 poin atau 0,06% ke level Rp12.985 per dolar AS. Istirahat siang, mata uang Garuda kembali tertekan dengan 24 poin atau 0,18% ke Rp13.001 per dolar AS. Jelang tutup dagang atau pukul 15.41 WIB, spot masih berkutat di zona merah usai tergerus 66 poin atau 0,51% ke posisi Rp13.043 per dolar AS.

Penguatan dolar AS menjadi salah satu faktor utama yang menekan pergerakan mata uang domestik. Sempat dibuka turun tipis, the greenback berbalik menguat 0,143 poin atau 0,15% ke level 97,072 pada pukul 10.21 WIB. Kemudian, pada Selasa siang, dolar AS kembali perkasa dengan naik 0,13% ke posisi 97,05.

Pergerakan dolar AS menguat ketika pelaku meningkatkan prediksi bahwa (Federal Reserve) bakal menaikkan suku bunga acuan (Fed Rate) mereka tahun ini. Probabilitas kenaikan suku bunga The Fed tahun ini menanjak menjadi 68% sekaligus kenaikan terbesar sejak Juni.

Di samping itu, lonjakan minyak yang mendorong imbal hasil obligasi serta spekulasi kemenangan kandidat Presiden AS, Hillary Clinton, terhadap sang rival, , dalam putaran kedua debat calon Presiden AS kemarin turut mendukung pergerakan dolar AS. “Dolar telah terdorong ekspektasi kenaikan suku bunga pada Desember seiring meningkatnya kemungkinan Hillary Clinton sebagai Presiden AS serta naiknya harga minyak,” jelas Ahli Strategi Mata Uang di National Australia Bank Ltd., Rodrigo Catril.

Selain rupiah, nilai tukar mayoritas mata uang Asia terhadap dolar AS juga terpantau bergerak melemah hingga Selasa siang. Pelemahan paling tajam dialami dolar Taiwan yang terseok 0,68%, disusul peso Filipina yang anjlok 0,36%, dan dolar Singapura yang turun 0,3%.

Loading...