Premium Makin Langka, Sopir Angkot di Bandung Ogah Naikkan Tarif

angkot bandung - www.mbandung.com

Bandung bakar (BBM) di daerah perkotaan saat ini sudah mulai jarang ditemukan. Padahal bahan bakar selama ini biasa dipakai untuk angkutan kota (angkot).

Ketua Organda Jawa Barat, Dedeh T Widarsih menuturkan jika hilangnya BBM bersubsidi itu akan berdampak pada angkutan umum. Sampai saat ini walaupun SPBU yang menjual premium sudah berkurang, bensin untuk angkot masih bisa ditemukan.

“Kalaupun nantinya (premium) itu hilang, yang pasti ongkos angkot akan disesuaikan,” ujar Dedeh bulan Januari 2017 lalu.

Terkait keberadaan BBM non-subsidi seperti pertalite, Dedeh berpendapat jika itu tetap akan berdampak pada . Pasalnya pertalite yang memiliki kandungan oktan lebih tinggi tersebut harganya lebih mahal daripada premium.

“Pokoknya, apapun bahan bakarnya yang pasti ongkos angkot itu akan disesuaikan. Bebannya ini akan kembali dirasakan masyarakat. Ya, tanya aja ke (Presiden RI) Jokowi,” katanya.

Sementara itu salah seorang sopir angkot bernama Dadang mengaku pasrah terkait sulitnya mencari premium di Kota Bandung. Sampai saat ini sopir angkut jurusan Abdul Muis-Cicaheum via Aceh tersebut masih memakai premium yang masih bisa didapat di yang ia lalui.

“Kalaupun nantinya premium hilang dan digantikan pertalite, ya terpaksa pakai pertalite. Walaupun harganya lebih mahal, saya nggak berani naikin ongkos. Kasihan sama ,” kata Dadang.

Dadang menjelaskan bahwa tarif angkot jurusan Abdul Muis-Cicaheum via Aceh sampai saat ini masih dipatok Rp 7.000. Dengan tarif sekian ia mengaku tak akan menaikkan ongkos angkota karena warga yang angkot saat ini sudah semakin berkurang. Kebanyakan warga lebih memilih sepeda motor daripada angkot.

Di sisi lain, Wali Kota Bandung, Ridwan Kamil berencana untuk membeli 3 angkot untuk diganti menjadi satu buah bus mulai tahun ini. Sehingga nantinya transportasi umum di Bandung tak lagi dikelola oleh pribadi.

“Regulasinya nanti angkot itu akan dibeli oleh Pemkot. Tiga angkot akan dibeli jadi satu bus. Sesuai aturan perundang-undangan, tidak boleh lagi ada transportasi umum yang dimiliki oleh pribadi,” jelas Emil.

“Nanti saya izinkan pengelolaan busnya itu oleh pemilik angkot, kira-kira begitu. Karena di masa depan, peraturannya sudah mensyaratkan seperti itu,” tandasnya.

Loading...