Senin Sore, Rupiah Berakhir Stagnan di Tengah Prahara Turki

Rupiah stagnanRupiah stagnan pada perdagangan Senin (22/3) sore - sindonews.com

JAKARTA – berakhir stagnan pada Senin (22/3) sore, setelah sepanjang hari terus tertekan karena terdampak pelemahan lira setelah gubernur setempat harus dipecat lantaran menaikkan cukup tajam. Menurut Bloomberg Index pada pukul 14.59 WIB, mata uang Garuda ditutup di level Rp14.407 per AS.

Di sisi lain, menurut data yang diterbitkan pukul 10.00 WIB, kurs acuan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) berada di posisi Rp14.456 per dolar AS, menguat 20 poin atau 0,13% dari transaksi sebelumnya di level Rp14.476 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang Asia tidak mampu mengalahkan greenback, kecuali rupee India dan yen Jepang.

“Ada kemungkinan dolar AS masih melanjutkan penguatan walaupun relatif terbatas. Sentimen soal pergerakan yield US Treasury masih akan menjadi katalis utama,” tutur Analis Monex Investindo Futures, Faisyal, dilansir dari Kontan. “Namun, pasar juga akan menantikan seperti apa hasil pertemuan AS dengan China. Jika membaik, ini bisa menjadi sentimen positif untuk aset berisiko.”

Sementara itu, seperti diwartakan Reuters, sepertinya mata uang -negara berkembang terkena imbas dari di Turki, ketika Presiden Tayyip Erdogan mengejutkan investor dengan mengganti gubernur Bank Sentral Turki, Naci Agbal, yang hawkish dengan kritik terhadap suku bunga tinggi. Hal tersebut membuat lira Turki merosot ke rekor terendah terhadap dolar AS.

Erdogan memecat Naci Agbal hanya dua hari setelah kenaikan suku bunga tajam yang dimaksudkan untuk mencegah inflasi hampir 16% dan mendukung lira. Gubernur bank sentral yang baru, Sahap Kavcioglu, kemungkinan besar akan mengarah pada pembalikan dari langkah-langkah hawkish dan ortodoks yang diambil untuk memerangi inflasi, yang dapat menyebabkan volatilitas pasar yang berkepanjangan.

“Negara-negara pasar berkembang lainnya tidak dalam posisi yang sama dengan Turki, tetapi masih mungkin terkena imbasnya,” kata kepala strategi mata uang di Mizuho Securities di Tokyo, Masafumi Yamamoto. “Ada kekhawatiran bahwa orang akan mulai mengambil untung di pasar lain. Sepertinya ini adalah waktu untuk memikirkan kembali strategi Anda, karena rotasi ke mata uang pasar berkembang dengan imbal hasil lebih tinggi akan ditunda.”

Loading...