Selasa Pagi, Rupiah Menguat Usai PPKM Sejumlah Wilayah Turun Level

Rupiah - en.tempo.coRupiah - en.tempo.co

JAKARTA – Rupiah tetap bertengger di area hijau pada perdagangan Selasa (31/8) pagi ketika pemerintah menurunkan level PPKM di sejumlah wilayah. Menurut Bloomberg Index pada pukul 09.06 WIB, mata Garuda menguat 27,5 poin atau 0,19% ke level Rp14.342,5 per dolar AS. Sebelumnya, spot ditutup naik 47,5 poin atau 0,33% di posisi Rp14.370 per dolar AS pada Senin (30/8) kemarin.

“Penguatan mata Garuda pada perdagangan kemarin salah satunya didukung langkah percepatan vaksinasi di Indonesia,” tutur TRFX Garuda Berjangka, Ibrahim Assuaibi, seperti dikutip dari Bisnis. “Pemerintah akan terus menggenjot akselerasi dan percepatannya karena target program vaksinasi mencapai 220 juta orang dari total sekitar 270 juta penduduk Indonesia.”

Hampir senada, Presiden Komisaris HFX Internasional Berjangka, Sutopo Widodo, seperti dilansir dari Kontan, mengatakan bahwa rupiah masih mampu bergerak stabil meskipun cenderung melemah karena didukung distribusi vaksin dalam negeri yang sudah mencapai 28% untuk dosis pertama dan 15% untuk dosis kedua. Jika perkembangan vaksin terus naik dan penyebaran terus menurun, ia memproyeksikan aktivitas ekonomi akan cepat pulih dan nilai tukar rupiah berpotensi stabil.

Paling baru, pemerintah kembali memperpanjang PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) hingga tanggal 6 September 2021 mendatang. Meski diperpanjang, secara keseluruhan, PPKM perlahan mulai turun level, dengan penyebaran corona yang terus melandai, sehingga memberikan sentimen positif untuk rupiah.

Sementara, dari luar negeri, mencerna komentar Gubernur The Fed, Jerome Powell, yang cenderung dovish, meski dirinya mengindikasikan pengurangan dukungan ekonomi besar-besaran bank sentral AS harus dimulai pada akhir tahun. Dalam simposium di Jackson Hole, Wyoming, Powell tidak mengatakan kapan mereka akan mulai mengurangi dukungannya untuk ekonomi dan mengulangi sikap bahwa lonjakan inflasi saat ini bersifat sementara.

“Saat tapering AS terjadi, biasanya akan terjadi sell of di dalam negeri, begitu juga investor domestik akan mengikuti langkah investor asing dalam merespons tapering off,” kata Senior Economist Samuel Sekuritas, Fikri C. Permana, dilansir dari Kontan. “Bank Indonesia akan membiarkan rupiah melemah ke level Rp14.600 per dolar AS, tetapi aktivitas ekspor akan terdorong dan membawa pertumbuhan ekonomi domestik.”

Loading...