PPKM Diperpanjang, Rupiah Berakhir Melemah

Rupiah - bisnis.comRupiah - bisnis.com

JAKARTA – harus rela terkapar di zona merah pada perdagangan Jumat (22/1) sore tertekan kabar kebijakan yang memutuskan untuk memperpanjang masa Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat. Menurut Index pada pukul 14.59 WIB, mata uang Garuda ditutup melemah 35 poin atau 0,25% ke level Rp14.035 per AS.

Sementara itu, menurut data yang dirilis pukul 10.00 WIB, acuan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) berada di posisi Rp14.054 per dolar AS, terdepresiasi 15 poin atau 0,11% dari sebelumnya di level Rp14.039 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang juga tidak berdaya melawan greenback, dengan pelemahan terdalam sebesar 0,21% dialami rupiah.

“Pergerakan nilai tukar rupiah hari ini salah satunya dipengaruhi perpanjangan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) hingga tanggal 8 Februari 2021 mendatang,” tutur ekonom CORE Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, dilansir dari Bisnis. “Selain itu, juga masih mencerna keputusan Bank Indonesia yang mempertahankan suku bunga acuan.”

PPKM di Jawa dan Bali memang resmi diperpanjang, yang awalnya berakhir 25 Januari 2021 menjadi hingga 8 Februari 2021. Langkah tersebut terpaksa diambil pemerintah untuk menekan lonjakan kasus di Tanah Air. Pasalnya, pada PPKM jilid pertama, belum ada hasil optimal, dengan hanya dua dari tujuh provinsi yang berhasil menurunkan angka penularan COVID-19.

Dari pasar global, nasib dolar AS sebenarnya tidak jauh lebih baik, menuju minggu terburuk tahun ini, karena investor menyambut pemerintahan Joe Biden dengan membeli mata uang berisiko dan menyegarkan taruhan bahwa pemulihan pandemi dapat mendorong kurs greenback lebih rendah lagi. Mata uang Paman Sam terpantau melemah 0,037 poin atau 0,04% ke level 90,094 pada pukul 11.10 WIB, walau akhirnya mampu bangkit di sore hari.

“Cukup sulit untuk melepaskan diri dari korelasi negatif yang kuat antara kinerja ekuitas dan dolar AS karena sentimen pasar saham meluas,” kata kepala strategi FX di National Australia Bank, Ray Attrill, dilansir dari Reuters. “Saya pikir pasar jauh lebih bahagia dengan fokus pada potensi positif dari rencana fiskal yang diusulkan pemerintahan Biden.”

Loading...