Potensi Menjanjikan, Harga Buah Labu Madu Rp35 Ribuan per Kg

Harga, labu, madu, per, kg, kilogram, berat, buah, jenis, tanaman, bambu, batang, desa, petani, lahan, pekarangan, dedaunan, kelompok, tani, masa, tanam, panen, rasa, tekstur, nutrisi, manfaat, antioksidan, aroma, kandungan, nutrisi, perawatan, pertanian, lingkungan, menu, giziLabu madu (sumber: Tokopedia)

pekarangan, terutama di pedesaan kerap dibiarkan kosong dan cenderung tidak terawat. Warga lebih fokus memanfaatkan sawah atau tegalan sebagai mata pencaharian. Padahal pekarangan, memiliki nilai manfaat tersendiri. Seperti di Desa Toyoresmi, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Warga di kampung ini sejak beberapa waktu lalu menanami pekarangan kosong dengan madu.

Labu madu memiliki rasa yang manis dan tekstur lembut sehingga enak untuk dikonsumsi dengan hanya direbus ataupun diolah lagi. Lebih dari itu, labu madu ini mengandung cukup banyak gizi yang bermanfaat bagi tubuh. Buahnya mengandung serat tinggi, antioksidan, beta karoten, vitamin A dan B kompleks sehingga sangat cocok menjadi menu sehat bagi keluarga. Kandungan gizi dalam labu madu tersebut juga sangat berkhasiat untuk mengontrol gula darah, mengobati anemia, dan cocok dikonsumsi bagi orang-orang yang sedang menjalani program diet.

Hasil memanfaatkan pekarangan ini terbilang cukup untuk menambah pundi-pundi penghasilan. Pekarangan yang awalnya kosong, kini menghasilkan pundi dan menambah keasrian lingkungan desa.

Labu madu ini berbeda dengan labu pada umumnya. Dari penampakan fisik misalnya, bentuknya bulat memanjang dengan diameter lebih kecil pada bagian tengahnya. Soal rasa, sesuai dengan nama madu yang disandangnya. Labu jenis ini lebih manis dan memiliki aroma khas, serta tekstur daging yang lebih halus. Kandungan nutrisinya juga cukup tinggi.

Dari sisi ekonomi, jual labu madu ini berkisar mulai Rp35.000 – Rp100 ribuan per kg. Untuk di negara lain seperti Singapura dan Malaysia, labu jenis ini lebih tinggi lagi, sekitar Rp150.000 per kg. Pada setiap batang labu, menghasilkan hingga 7 dengan berat masing-masing 1-3 kilogram.

Masa tanamnya pun cukup cepat, sekitar 3 bulan sudah panen. “Potensinya cukup bagus. Makanya saya mendorong teman-teman untuk beralih tanam labu madu ini,” ujar Ketua Kelompok Tani Labu Madu Sekar Gading di Desa Toyoresmi, Sulis, kepada Kompas.

Keberhasilan Sulis dan timnya menginspirasi warga sekitar. Satu per satu warga beralih dari tanaman singkong, ketela, dan melon ke labu madu. Selain cepat dan menguntungkan, perawatan labu madu lebih mudah dan prospektif untuk . Misalnya Jarwo, seorang petani labu, saat ini ia bersiap menanam labu lebih banyak dari yang ada sekarang. Tanaman labu madu itu akan menggantikan tanaman cabe yang selama ini dia tekuni. “Mulai bulan depan nanam lebih banyak labu. Saat ini lahan saya masih ada tanaman cabenya,” ujar Jarwo.

Hingga saat ini, di Desa Toyoresmi sudah ada lebih dari 30 warga yang menanam labu madu. Ditambah lagi desa-desa lainnya di Kecamatan Ngasem. Mereka umumnya tergabung dalam kelompok tani sebagai wadah aktualisasi diri. Hasil panenan labu, selain untuk mencukupi kebutuhan lokal, juga banyak dikirim ke luar daerah seperti Jakarta, Banjarmasin, maupun Yogyakarta. Permintaan itu seakan tiada habisnya.

Selain imbas ekonomi, banyaknya tanaman labu menjadikan daerah ini destinasi wisata baru, terutama agrowisata dan edukasi budidaya labu madu. Wilayah tersebut kemudian terkenal dengan sebutan Kampung Labu Madu. Ini lagi-lagi karena keberadaan labu madu sendiri masih cukup jarang yang tahu sehingga menjadi magnet bagi wisatawan. Banyak juga kelompok tani atau Pemda lainnya yang sengaja datang untuk menimba ilmu di Desa Toyoresmi ini.

Kebun labu menjadi daya tarik tersendiri, karena merambat di tiang-tiang penyangga dari bambu yang diatur sedemikian rupa sehingga terhubung antara tanaman satu dengan lainnya. Ditambah lagi dengan buah labunya yang bergantungan, cukup indah dipandang. Hijaunya dedaunan dan labu yang menggantung kerap membuat pengunjung berswafoto.

Loading...