Populer Lewat Aturan Boleh Gondrong, Segini Biaya Masuk SMA Kolese Gonzaga

Siswa SMA Kolese Gonzaga (instagram: @instagonzaga)Siswa SMA Kolese Gonzaga (instagram: @instagonzaga)

Keberadaan Kolese Gonzaga tentu sudah tak asing lagi di telinga masyarakat, khususnya penduduk Ibukota. katolik ini berlokasi di Pejaten Barat, Jakarta Selatan dan sudah ada sejak tahun 1987 silam. Mulanya Kolese Gonzaga hadir sebagai SMA khusus laki-laki, tetapi mulai tahun 1990 yang awalnya memiliki nama Kolese Kanisius Unit Selatan ini mulai menerima perempuan sampai sekarang.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, SMA Kolese Gonzaga kembali membuka penerimaan peserta didik baru (PPDB) untuk tahun 2019/2020. siswa baru di Kolese Gonzaga terbagi dalam 2 jalur, yakni Jalur Prestasi dan Jalur Reguler. PPDB Kolese Gonzaga sendiri telah berlangsung pada bulan November 2018 lalu.

Untuk masuk ke Kolese Gonzaga, calon siswa harus mengikuti beberapa tahapan seleksi seperti wawancara bersama orang tua, tes kebugaran, tes bakat, dan tes (Matematika, Fisika, dan Ekonomi). Selain itu, calon siswa juga diharuskan membayar pendaftaran sebesar Rp 250 ribu sekaligus melengkapi berbagai berkas pendaftaran yang dibutuhkan.

Salah satu hal yang membuat Kolese Gonzaga begitu terkenal di kalangan pelajar adalah peraturannya yang memang lain dari sekolah pada umumnya. Kolese Gonzaga termasuk salah satu sekolah swasta yang mengizinkan laki-lakinya untuk memiliki rambut panjang alias gondrong. Tetapi jangan salah, kebijakan ini tidak diberlakukan rata untuk semua siswa, tetapi hanya sebagai bentuk ‘apresiasi’ pada siswa yang memiliki nilai akademik bagus di sekolah.

“Hingga tahun 2004, siswa Gonzaga harus mendapat nilai rata-rata untuk bisa menggondrongkan rambutnya. Tapi kalau di bawah itu enggak bisa. Kalau nilainya belum memenuhi syarat, di bawah 85 misalnya, maka mau tidak mau harus dipotong rambutnya. Paling panjang 5 cm,” kata Gerardus Hadian Panamokta (Okta) selaku Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan (Moderator) SMA Kolese Gonzaga, seperti dilansir Kumparan.

Yang lebih menarik lagi, ada juga hari-hari tertentu di mana pihak sekolah mengizinkan siswa-siswinya mengenakan baju bebas. “Ada hari di mana pakaian pun tidak menggunakan seragam. Pakai batik atau pakaian bebas. Jadi (kami) ingin menekankan bahwa anak-anak bisa diminta tanggung jawabnya. Dengan penampilan seperti itu masih tetap bisa perform baik secara akademik dan leadership juga,” ungkap Okta.

Loading...