Polusi Udara Parah Panaskan Hubungan Korea Selatan dan China

Polusi Udara di Korea Selatan dan China - garudanews.idPolusi Udara di Korea Selatan dan China - garudanews.id

SEOUL – Ketegangan hubungan dua negara ternyata tidak hanya didasari oleh permasalahan . Kondisi yang buruk juga dapat memicu dua pemerintahan untuk saling menuding kesalahan satu sama lain. dan China dikabarkan sedang bersitegang karena polusi udara yang mengancam kesehatan Negeri Ginseng, yang diklaim berasal dari Negeri Panda.

Dikutip dari Nikkei, pembacaan polusi udara pada awal Maret kemarin telah mencapai tiga kali tingkat yang direkomendasikan, memicu kepanikan. Warga Korea Selatan sedang mempertimbangkan langkah ke Kanada atau Jepang untuk melarikan diri dari ‘debu pembunuh’. Sementara, orang tua melarang anak-anak mereka bermain di luar, sedangkan buru-buru membuat taman bermain dalam ruangan.

Pada tanggal 5 Maret, tingkat rata-rata negara PM2.5, atau partikel udara halus yang berdiameter kurang dari 2,5 mikrometer, mencapai 104 mikrogram per meter kubik. Itu sekitar tiga kali lipat maksimum yang disarankan, yaitu 35 mikrogram, menurut Korea Environment Corp, organisasi sektor publik yang mempromosikan proyek hijau. Di pusat Seoul, konsentrasi kabut asap hari itu bahkan lebih tinggi, yaitu 122 mikrogram.

Pemerintah Korsel langsung mengambil tindakan. Kementerian Lingkungan setempat telah memberlakukan pembatasan pada lalu lintas , konstruksi, dan pembangkit listrik tenaga batu bara. Selain dana darurat yang dibuka oleh deklarasi Majelis Nasional, Kementerian Korsel juga berencana untuk mengumpulkan tambahan beberapa miliar dolar AS, yang di antaranya akan digunakan untuk memerangi pencemaran udara.

Presiden Korea Selatan, Presiden Moon Jae-in, berpendapat bahwa negaranya tidak harus berperang sendirian melawan polusi udara ini. Pada pertengahan Maret kemarin, ia menuturkan bahwa masalah ini juga ada kaitannya dengan China. Sang presiden sendiri mengharapkan mantan Sekjen PBB, Ban Ki-moon, untuk memainkan peran sentral dalam menyampaikan kekhawatiran Seoul ke Beijing. “Korea Selatan dan China perlu mengakui ini sebagai masalah umum dan melakukan upaya bersama untuk menyelesaikannya,” kata Moon.

Seperti presiden, banyak warga Korea Selatan telah lama percaya bahwa China, yang terkenal karena langitnya yang berasap, adalah sumber utama polusi mereka. Menteri Luar Negeri Korea Selatan, Kang Kyung-wha, menyatakan bahwa China adalah faktor utamanya dan dia menuturkan bahwa kedua negara sedang membahas bagaimana menangani masalah ini bersama.

Sayangnya, China malah berpikir Korea Selatan hanya melewati batas. Ketidaksepakatan itu mengancam untuk, sekali lagi, mendinginkan hubungan antara dua tetangga, yang telah berdebat dalam beberapa tahun terakhir terkait posisi Seoul dalam sistem pertahanan rudal AS. Perseteruan itu menyebabkan China untuk sementara melarang kunjungan warganya ke Korea Selatan dan pembalasan lain yang terbukti telah merugikan bisnis Negeri Ginseng.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Lu Kang, mempertanyakan apakah Seoul memiliki bukti yang cukup untuk membuktikan bahwa kabut asap tersebut berasal dari Tiongkok. Sementara itu, Liu Bingjiang, kepala departemen manajemen kualitas udara Kementerian Perlindungan Lingkungan China, mengutip penelitian yang diterbitkan oleh para sarjana Korea Selatan dan AS, berpendapat bahwa Seoul mungkin telah meremehkan emisi nitrogen oksida mereka, yang dihasilkan oleh pembakaran bahan bakar.

“Jika Seoul hanya menyalahkan dampak yang ditimbulkan oleh transmisi (dari China) dan menolak untuk melihat masalahnya sendiri, mereka akan kehilangan peluang terbaik untuk memerangi polusi udara,” kata Liu kepada wartawan pada Januari lalu. “Kualitas udara China telah meningkat lebih dari 40% sejak 2013, dan kami sudah mengajak negara-negara untuk bekerja sama.”

Meski Liu mengklaim demikian, namun kenyataannya polusi udara tetap menghantui Negeri Tirai Bambu. Menurut Laporan Kualitas Udara Dunia 2018 yang dirilis oleh AirVisual, daratan China memiliki konsentrasi PM2.5 rata-rata tertinggi ke-12, yaitu 41,2 mikrogram per meter kubik. Sementara, Korea Selatan peringkat ke-27, dengan 24,0 mikrogram, sedangkan Hong Kong berada di posisi ke-35, dengan 20,2 mikrogram.

Laporan WHO menjelaskan bahwa ‘debu pembunuh’ memang sangat berbahaya. Setiap tahun, kata organisasi itu, 7 juta orang meninggal sebelum waktunya karena terpapar polusi udara. Dua pertiga dari kematian itu terjadi di Asia. Polusi udara luar ruangan, dari pabrik dan lalu lintas, misalnya, bertanggung jawab atas 4,2 juta dari total kematian.

Perkiraan korban tewas untuk Korea Selatan mencapai 15.825 pada 2016, menurut laporan dari Jang Jae-yeon, seorang profesor di Universitas Ajou di Suwon, yang mengutip data WHO. Adapun tanggung jawab China, tidak semua orang di Korea Selatan menyalahkan tetangga. Beberapa orang menyerukan melakukan pengurangan pembangkit listrik tenaga batu bara dan kendaraan yang membuang polusi, daripada menunjuk dengan jari. “Satu-satunya solusi adalah mengurangi tingkat polusi (di Korsel),” kata Jang.

Loading...