Politik Global Memanas, Rupiah Lesu di Akhir Pekan

Rupiah - berkahtuhan.comRupiah - berkahtuhan.com

tidak memiliki otot untuk keluar dari area negatif sepanjang Jumat (10/8) ini, ketika indeks AS terus bergerak menguat di tengah pergolakan politik dan meningkatnya tensi . Menurut Index pukul 15.59 WIB, Garuda terpantau melemah 62 poin atau 0,43% ke level Rp14.478 per dolar AS, sedangkan Wall Street Journal pukul 15.32 WIB mencatat spot jatuh 45 poin atau 0,31% ke Rp14.481 per dolar AS.

Sebelumnya, rupiah sempat berakhir menguat 23 poin atau 0,16% di posisi Rp14.416 per dolar AS pada akhir perdagangan Kamis (9/8) kemarin. Pagi tadi, mata uang NKRI harus berbalik melemah 23 poin atau 0,16% ke level Rp14.439 per dolar AS ketika membuka pasar. Sepanjang hari ini, spot praktis tidak memiliki tenaga untuk keluar dari zona merah.

Sementara itu, Bank siang tadi menetapkan kurs tengah berada di posisi Rp14.437 per dolar AS, terdepresiasi 15 poin atau 0,10% dari perdagangan sebelumnya di level Rp14.422 per dolar AS. Di saat yang hampir bersamaan, mayoritas mata uang Asia takluk versus , dengan pelemahan terdalam sebesar 0,72% menghampiri won Korea Selatan.

Dari pasar global, indeks dolar AS memang bergerak lebih tinggi terhadap sekeranjang mata uang utama pada hari Jumat, di tengah pergolakan politik dan meningkatnya tensi perdagangan. Mata uang Paman Sam terpantau menguat 0,336 poin atau 0,35% ke level 95,840 pada pukul 12.13 WIB, setelah kemarin sudah berakhir naik 0,412 poin atau 0,43%.

Diberitakan Reuters, greenback telah didorong oleh meningkatnya ketegangan perdagangan global dan hubungan geopolitik yang memanas. AS baru-baru ini mengatakan akan memberlakukan sanksi baru untuk Rusia, selain juga terlibat dalam perseteruan diplomatik dengan Turki. Sebelumnya, delegasi Turki dikabarkan telah menolak berkomitmen untuk melepaskan seorang pendeta AS yang ditahan.

“Ada beragam ketidakpastian dan kekhawatiran di pasar saat ini, dengan tensi dagang AS-China yang masih belum mereda, selain kekhawatiran atas hubungan dengan Uni Eropa, Inggris, dan Turki,” kata manajer cabang untuk State Street Bank and Trust di Tokyo, Bart Wakabayashi. “Di tengah semua kondisi ini, greenback dan yen berfungsi sebagai aset safe haven pada saat bersamaan.”

Loading...