Didorong Pokdarwis, Wisata Malang Tonjolkan Keramahan pada Turis

Desa Taji Malang - www.desataji.comDesa Taji Malang - www.desataji.com

Sektor Malang, baik di kota maupun kabupaten, dalam beberapa tahun belakangan ini memang makin menggeliat. Dipelopori pokdarwis (kelompok sadar wisata), mereka menggandeng Dinas Kebudayaan dan untuk membangun , seperti homestay, sekaligus mengembangkan keterampilan , termasuk keramahan dan kehangatan kepada para wisatawan.

Dilansir dari SilverKris, dulunya Malang hanya menjadi ‘kota pemberhentian’ bagi para pelancong yang akan melakukan perjalanan mereka ke Gunung Bromo atau Kawah Ijen. Namun, dengan lebih banyak desa yang memperkenalkan homestay komunitas, kawasan ini telah menjadi tujuan tersendiri. Selain itu, dengan dibukanya jalan tol baru yang menghubungkan Malang dengan Surabaya, akses ke ini sekarang menjadi lebih mudah.

Jika Anda mencoba ke Desa Taji, Anda akan menjumpai banyak kafe (atau warung) yang menyediakan lokal. Berada di ketinggian 1.185 m dari permukaan laut, Desa Taji yang terletak sekitar 27 km di sebelah timur Malang, memang terkenal karena kopinya, sekaligus berkontribusi pada status Malang sebagai penghasil terbesar kedua di Jawa Timur.

Rumah bagi hanya 1.450 orang, masyarakat di Desa Taji memiliki 50 hektar perkebunan kopi dan perlahan membuka diri untuk menyambut lebih banyak pengunjung. Tahun lalu, ada sekitar 24 siswa internasional mengunjungi desa tersebut untuk belajar lebih banyak tentang pertanian dan cara hidup masyarakat setempat. Bersama-sama dengan otoritas pariwisata Malang, desa ini sekarang bekerja untuk membuat program homestay bagi mereka yang tertarik menyelami kehidupan Taji.

Inisiatif ini sendiri dipimpin oleh pokdarwis akar rumput lokal, yang bekerja bersama dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata setempat untuk membangun keterampilan dan infrastruktur, termasuk mendapatkan sebagai pemandu atau tuan rumah homestay. Hingga saat ini, Kabupaten Malang memiliki 118 kelompok pokdarwis dan jumlahnya diharapkan dapat bertambah menjadi 200 kelompok pada akhir tahun 2019.

Sektor wisata yang lebih berkat pokdarwis juga dapat ditemukan di Ngadas. Desa yang mengambil namanya dari bunga adas ini telah menyediakan banyak homestay sejak 2012 dan saat ini menawarkan sekitar 37 opsi bagi pengunjung, yang sebagian besar melakukan perjalanan ke Gunung Bromo. Bertengger di ketinggian 2.150 m di atas permukaan laut, Ngadas adalah desa tertinggi di Kabupaten Malang dan terkadang disebut sebagai ‘desa di awan’, karena seringkali diselimuti kabut dan dari kejauhan tampaknya mengambang di udara.

Pada bulan Juni tahun ini, Ngadas sekali lagi dinominasikan di gelaran tahunan Anugerah Pesona Indonesia, yang menghormati pariwisata terbaik di dalam negeri. Meski dihuni oleh tiga kelompok agama, yakni Hindu, Buddha, dan Islam, namun tetangga ramah memanggil satu sama lain sambil menjalani hari-hari mereka, melambat untuk mengobrol dengan teman-teman. Anak-anak bermain di jalan kecil yang menghubungkan rumah mereka, di antara ayam-ayam yang bebas berkeliaran menggaruk tanah.

Sujak, seorang berusia 64 tahun yang telah tinggal di Ngadas selama lebih dari setengah hidupnya dan merupakan kepala pokdarwis setempat, mengatakan itu adalah komunitas erat yang telah menahannya di sini selama bertahun-tahun. “Semua orang rukun, dan kami mengambil bagian dalam upacara tradisional masing-masing,” katanya penuh santun.

Tidak hanya di kabupaten, sekitar 10 menit berjalan kaki dari alun-alun atau pusat kota, dapat ditemukan Kajoetangan Heritage Village, yang sudah ada sejak 150 tahun lalu ketika Malang masih menjadi pos terdepan kolonial Belanda. Saat ini, kawasan tersebut tetap mempertahankan banyak bangunan yang didirikan pada zaman kolonial, dengan jalur yang rindang dan sempit serta jauh dari hiruk-pikuk jalanan.

Astufa, wanita berusia 55 tahun yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga, mengaku sudah tinggal di kawasan Kajoetangan sejak dirinya menikah pada usia 20 tahun. Ia sendiri betah tinggal di daerah itu karena menyukai suasana lingkungan dan keramahan warganya. “Semua orang sangat kooperatif dan bersahaja,” kata Astufa.

Rasa kehangatan ini sendiri tidak hanya diperuntukkan bagi tetangga. Penduduk tampak tenang dan tidak terganggu saat melihat pengunjung asyik selfie di jalan-jalan di luar rumah mereka. Dalam sebuah wawancara pada April 2019 dengan Republika, seorang warga mengatakan bahwa ekonomi lokal telah berkembang sejak mereka membuka Kajoetangan untuk pariwisata empat tahun lalu. Mereka sendiri berharap mendapat lebih banyak dukungan dari pemerintah dalam mengembangkan keterampilan keramahan mereka.

Loading...