PMI China Menguat, Rupiah Dibuka Melesat 0,53%

Rupiah - berkahtuhan.comRupiah - berkahtuhan.com

JAKARTA – agaknya siap membalas dendam pada AS dalam Selasa (30/6) ini, didukung sentimen dari China. Menurut paparan Index, mata uang Garuda membuka dengan menguat tajam 75 poin atau 0,53% ke level Rp14.170 per AS. Sebelumnya, spot ditutup melemah 25 poin atau 0,18% di posisi Rp14.245 per AS pada hari Senin (29/6).

“Pelemahan rupiah yang terjadi pada perdagangan kemarin masih disebabkan penyebaran virus corona, baik secara maupun di dalam negeri, yang terus bertambah. Bahkan, kini virus corona sudah tembus 10 juta kasus,” tutur Analis Monex Investindo Futures, Faisyal, dilansir Kontan. “Ditambah lagi, pelaku masih cukup khawatir dengan outlook imbas dari banyaknya konflik saat ini.”

Untuk perdagangan hari ini, Faisyal menilai bahwa mata uang domestik masih akan melanjutkan pelemahan. Pasalnya, selama vaksin virus corona belum ditemukan, sentimen pandemi tersebut masih akan menekan kinerja rupiah karena investor akan risk off dan beralih ke aset safe haven. “Rupiah mungkin bergerak di kisaran Rp14.250 hingga Rp14.500 per dolar AS,” sambung Faisyal.

Hampir senada, Kepala Riset dan Edukasi Monex Investindo Futures, Ariston Tjendra, mengatakan bahwa rupiah berpotensi bertahan di zona merah jika fokus pasar masih tertuju pada peningkatan jumlah kasus COVID-19 di seluruh dunia. Terus bertambahnya jumlah kasus COVID-19 diyakini akan semakin menghambat pemulihan global dan menurunkan minat investor untuk mengumpulkan aset berisiko, termasuk rupiah.

Sedikit berbeda, analisis CNBC Indonesia memprediksi bahwa mata uang Garuda kemungkinan bisa bangkit pada transaksi hari ini. Pasalnya, rupiah menerima suntikan tenaga dari sektor manufaktur China. Markit pagi ini melaporkan bahwa Purchasing Managers’ Index (PMI) Negeri Panda pada bulan Juni naik menjadi 50,9 dari bulan sebelumnya di angka 50,6.

Dengan demikian, China masih mempertahankan, bahkan menambah laju ekspansi di bulan Juni, meski virus corona sempat menyerang ibukota negara, Beijing. Sehingga, harapan akan perekonomian bisa segera bangkit kembali muncul. Kabar baik dari Negeri Tirai Bambu tersebut tentunya dapat mengangkat kembali sentimen pelaku pasar, dan rupiah berpeluang kembali ke jalur penguatan.

Loading...