PMI AS Positif, Rupiah Dibuka Melemah 7 Poin

Data dan Paman Sam yang mengatrol indeks sehingga membuat harus mengawali Selasa (25/7) ini di zona merah. Seperti diwartakan Bloomberg Index, Garuda membuka dengan 7 poin atau 0,05% di level Rp13.316 per dolar AS. Kemudian, pada pukul 08.39 WIB, spot kembali turun 10 poin atau 0,08% ke posisi Rp13.319 per dolar AS.

Dari global, indeks dolar AS perlahan merangkak naik dari level terendah 13 bulan pada pagi ini menyusul data manufaktur dan jasa Paman Sam yang positif menjelang dimulainya pertemuan kebijakan Federal Reserve pada tengah pekan waktu setempat. Mata uang greenback menguat tipis 0,092 poin atau 0,1% ke level 94,069 pada pukul 07.42 WIB, setelah dibuka di posisi 94,031.

Pada Senin (24/7) waktu setempat, survei indeks manajer pembelian (Purchasing Manager Index atau PMI) dari Markit menunjukkan sektor manufaktur dan jasa AS meningkat di atas prediksi, sedangkan pertumbuhan bisnis zona Euro pada awal semester kedua tahun ini melambat. Data ini lantas membuat dolar AS bangkit sekaligus ‘melunakkan’ laju mata uang euro.

“Data PMI AS dari Markit berada di atas ekspektasi dan menunjukkan potensi pertumbuhan, sementara PMI Eropa turun sedikit di bawah ekspektasi untuk membantu melunakkan euro,” ujar Analis Senior ThinkMarkets, Matt Simpson. “Namun, ekspektasi Fed yang sedikit dovish serta Gedung Putih yang tampaknya dalam gejolak kemungkinan akan menekan dolar AS lebih lanjut.”

Sementara itu, Analis Soe Gee Futures, Nizar Hilmy, mengatakan bahwa keunggulan rupiah pada perdagangan sebelumnya murni berkat sentimen negatif yang masih menyelubungi dolar AS. Tekanan pada greenback makin kuat setelah juru bicara Gedung Putih resign pada akhir pekan lalu usai investigasi skandal email Presiden Donald Trump dengan Rusia. “Pada hari ini, rupiah konsolidasi di kisaran Rp13.300 sampai Rp13.340 per dolar AS,” kata Nizar.

Loading...