Nantikan Pidato Powell dan Yellen, Rupiah Berakhir Menguat

Rupiah - www.liputan6.comRupiah - www.liputan6.com

JAKARTA – Setelah bergerak dalam kisaran yang sangat sempit, rupiah akhirnya menutup Selasa (23/3) sore di area hijau ketika terus melaju kencang saat pasar menantikan komentar terbaru pembuat kebijakan, termasuk Gubernur The Fed, Jerome Powell, dan Menteri AS, Janet Yellen. Menurut Bloomberg Index pada pukul 14.59 WIB, Garuda berakhir menguat 10,5 poin atau 0,07% ke level Rp14.396,5 per AS.

Sementara itu, data yang diterbitkan pukul 10.00 WIB menempatkan kurs acuan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) berada di posisi Rp14.421 per dolar AS, menguat 35 poin atau 0,24% dari sebelumnya di level Rp14.456 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, sejumlah mata uang Asia harus bertekuk lutut melawan greenback, termasuk baht Thailand, peso Filipina, dan won Korea Selatan.

Sebelumnya, Direktur TRFX Garuda Berjangka, Ibrahim, sempat berujar bahwa rupiah kemungkinan masih bergerak cukup pada perdagangan hari ini setelah sebelumnya ditutup stagnan. Kenaikan imbal hasil atau yield obligasi AS terus membuat dolar AS bergerak menguat. Pelaku pasar pun memantau KTT Inovasi BIS minggu ini, dengan pembicara seperti Jerome Powell dan Christine Lagarde dari Bank Sentral Eropa.

Dari pasar global, dolar AS melayang di bawah posisi tertinggi pada hari Selasa ketika investor menantikan komentar baru dari pembuat kebijakan AS untuk mengukur seberapa jauh mereka akan memungkinkan imbal hasil obligasi AS naik. Mata uang Paman Sam terpantau menguat 0,10 poin atau 0,11% ke level 91,842 pada pukul 11.26 WIB.

Seperti diwartakan Reuters, greenback telah naik 2,0% sejauh kuartal ini, karena peluncuran cepat vaksin COVID-19 di AS dan stimulus 1,9 triliun dolar AS dari pemerintahan Joe Biden terlihat mengangkat pertumbuhan ekonomi negara, membantu meningkatkan imbal hasil obligasi AS dan menarik investor ke dolar AS. Daya tarik greenback semakin didorong karena pejabat Federal Reserve tampaknya menoleransi kenaikan imbal hasil obligasi dalam beberapa pekan terakhir.

Kepala analis mata uang di MUFG Bank, Minori Uchida, mengatakan bahwa imbal hasil obligasi akan naik lebih lanjut karena pasar mungkin mencoba mencari tahu di mana ambang batas untuk The Fed. Senada, ahli strategi senior di Daiwa Securities, Yukio Ishizuki, menuturkan bahwa pasar tertarik pada seberapa jauh imbal hasil obligasi AS akan naik. “Sementara pejabat The Fed mengatakan mereka akan mempertahankan suku bunga rendah hingga 2023, mungkin ada suara yang berbeda,” katanya.

Loading...