Lebih dari 44 Ribu Orang Ikut Petisi Online, Ingin Prancis Kuasai Lebanon

Beirut, Lebanon pascaledakan Selasa 04/08 lalu (sumber: ft.com)Beirut, Lebanon pascaledakan Selasa 04/08 lalu (sumber: ft.com)

BEIRUT – Lebih dari 44 ribu orang sudah menandatangani petisi online untuk ‘menempatkan di bawah kendali Prancis selama 10 tahun ke depan’, yang tercatat pada Kamis (6/8) sore. Petisi di situs Avaaz dilaporkan dibuat oleh warga pada hari Rabu (5/8), menyusul ledakan yang mengguncang Beirut pada hari Selasa (4/8), menewaskan lebih dari 140 jiwa dan melukai lebih dari 5.000 orang.

“Para pejabat Lebanon jelas menunjukkan ketidakmampuan total untuk mengamankan dan mengelola negara. Dengan sistem yang gagal, korupsi, dan milisi, negara baru saja mencapai napas terakhirnya,” bunyi petisi tersebut, seperti dilansir Deutsche Welle. “Kami percaya Lebanon harus kembali di bawah mandat Prancis untuk membangun pemerintahan yang bersih dan tahan lama.”

Petisi itu sendiri terutama ditujukan kepada Prancis, Emmanuel Macron, yang menjadi pemimpin negara asing pertama yang tiba di Beirut sejak tragedi melanda. Dalam kunjungannya, Macron memperingatkan bahwa Lebanon akan ‘terus tenggelam’ jika tidak melakukan reformasi. Ia berjanji bahwa Prancis akan membantu memobilisasi bantuan untuk kota itu, yang telah mengalami kerusakan dan kehancuran senilai miliaran .

Macron mengatakan kepada para demonstran yang marah di pusat kota Beirut bahwa pihaknya akan mencari kesepakatan baru dengan otoritas . “Saya jamin ini, bantuan, tidak akan sampai ke tangan koruptor. Saya akan berbicara dengan semua kekuatan untuk meminta pakta baru. Saya di sini, hari ini, untuk mengusulkan pakta baru kepada mereka,” katanya di hadapan para pengunjuk rasa.

Kerumunan yang berunjuk rasa di jalan Beirut meminta Macron untuk membantu menggulingkan kepemimpinan negara tersebut. Guncangan sendiri dengan cepat berubah menjadi kemarahan, dengan banyak kritikus dan pengunjuk rasa mengatakan bahwa korupsi dan ketidakmampuan di antara -kelas politik bertanggung jawab atas ledakan mematikan tersebut. Sebelumnya, Prancis menguasai negara Timur Tengah mulai 1920 hingga 1945 di bawah mandat yang ditetapkan setelah Perang Dunia I.

Jaksa di Prancis sendiri telah membuka penyelidikan atas ledakan tersebut. Sedikitnya, 21 warga negara Prancis terluka dan satu tewas dalam ledakan itu. Sebelum masa pandemi coronavirus, Lebanon sudah diguncang oleh protes orang-orang yang marah dengan dan ekonomi. Devaluasi baru-baru ini mengakibatkan banyak orang Lebanon kehilangan dana mereka dalam bentuk tabungan.

Loading...