Peternak Merugi, Harga Ayam DOC Melambung Lebih dari Rp 6.000/Ekor

Jakarta – Ketua Dewan Pembina Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat (Pinsar) , Hartono mengungkapkan jika kini kondisi peternak ayam makin tertekan lantaran harga Day Old Chick (DOC) semakin tinggi.

“Peternak kecil sederhana saja, harga ayam hidup dan telur diatas HPP (Harga Pokok Produksi) peternak,” ujar Hartono. Di samping itu, peternak rakyat kini banyak berkuran karena sebagian besar merugi akibat harga DOC yang dan harga jual ayam yang semakin tak menguntungkan.

“Harga jual ayam hidup dan telur murah dibawah HPP peternak. Peternak rugi terus berbulan-bulan, porsi peternak rakyat UMKM sudah tinggal dibawah 20 persen,” tuturnya.

Sebelumnya dilaporkan bahwa harga DOC dibanderol sekitar Rp 4.000 hingga Rp 4.750 per ekor. Namun kini harganya melambung hingga lebih dari Rp 6.000 per ekor. Hartono mengungkapkan beberapa faktor yang membuat harga DOC lebih mahal dibanding harga jual ayam.

“Harga jual bisa murah karena over-supply, persaingan diantara peternakan besar yang beberapa tahun terakhir ini besar-besaran menambah kandang budidayanya, DOC dipelihara mereka sendiri. Jumlah DOC yang dijual ke peternak rakyat (dari pembibitan) dikurangi, dan memicu naiknya harga DOC tinggi,” ujarnya.

“Seperti saat ini harga ayam hidup hanya dihargai Rp 15.000/kg. Sementara biaya produksinya Rp 17.500, akhirnya rugi kita sejak 3 bulan ini,” kata Sekretaris Jenderal Gabungan Organisasi Peternak Ayam (GOPAN), Sugeng Wahyudi.

Menurut data dari Pinsar per 26 November 2016, harga ayam broiler hidup di kandang di sejumlah daerah kini relatif rendah. Misalnya saja di Padang, Lampung, Cianjur, Bogor, , dan Banten, harganya dibanderol Rp 15.000/kg. Sedangkan di Ciamis, Majalengka, , Kuningan Rp 13.000/kg, dan di Jawa Tengah seperti Semarang, Kudus, Sragen, Rembang, serta Magelang harganya Rp 13.500/kg.

Loading...