Peternak Ayam Keluhkan Kenaikan Harga Jagung Giling per Karung

Harga, jagung, per, kg, karung, isi, 10 kg, petani, kenaikan, tingkat, pakan, ternak, pabrik, potensi, bahan, baku, acuan, komposisi, kontribusi, giling, stok, menjual, halus, dijual, penggilingan, ongkos, produksi, peternak, pakan ayam, fluktuatif, produk, peraturan, pemerintahPeternak memberi pakan ayam jagung giling

Kenaikan harga dalam beberapa waktu terakhir, berpotensi membuat harga jual ikut melambung. Sebagaimana kita ketahui, jagung merupakan utama yang berkontribusi sebesar 50 persen dalam komponen biaya produksi pakan ternak. Kondisi ini membuat para peternak menjerit karena mahalnya harga jagung. Melihat kondisi ini, pemerintah diminta mengamankan harga jual jagung untuk mengantisipasi kenaikan harga pakan ternak.

Badan Ketahanan Pangan (BKP) Kementerian Pertanian mencatat, harga jagung saat ini mencapai Rp5.380 per kilogram (kg) di tingkat petani. Sementara harga jual jagung eceran rata-rata sebesar Rp6.320 per kg, padahal sebelumnya harga acuannya hanya sekitar Rp4.000 per kg, penetapan harga acuan tersebut bahkan telah tertuang di dalam Peraturan Menteri Nomor 27 Tahun 2017.

Kepala Seksi Hasil Peternakan, Direktorat Jenderal Perdagangan Dalam Negeri, Kementerian Perdagangan, Yoseph menyatakan komposisi produk pakan ternak sudah mengalami kenaikan.

Sebab, 70 persen dari Harga Produksi Pokok (HPP) berasal dari biaya produksi pakan, dengan rincian sebanyak 35 persen dikontribusi dari biaya pembelian jagung giling, 10 persen bekatul, 16 persen buntil kedelai, 4 persen bahan olahan, dan 5 persen premik, obat, serta vaksin. Sementara 30 persen sisanya untuk biaya operasional.

Pihaknya mencontohkan, dengan harga jagung yang mulai naik dari acuan Rp4.000 per kg menjadi Rp5.500 per kg, hal ini akan mengerek HPP menjadi Rp7.280 per kg. “Kalau komposisinya bergerak sedikit, ongkos produksi akan respons dengan cepat,” kata Yoseph di Jakarta, belum lama ini.

Pihaknya menyebutkan ongkos pengiriman juga menjadi salah satu faktor yang harus dijaga untuk menentukan harga jual atau harga produksi jagung. “Untuk pakan, tidak hanya nilai tukar mata uang , tetapi juga komponen harga lainnya,” ujarnya.

Sebelumnya Direktur Pakan, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian, Sri Widayati, mengungkapkan bahwa sentra jagung masih tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Sementara itu, 56 dari 92 pabrik pakan ternak masih berada di Pulau Jawa.

Padahal Kementerian Pertanian, memproyeksikan produksi pakan ternak tahun ini bisa mencapai 19,4 juta ton, lebih tinggi dibandingkan capaian tahun lalu 18,2 juta ton. Sedangkan jagung untuk pakan bagi pabrik penggilingan pakan sekitar 650 ribu ton per bulan dan peternak layer yang butuh sedikit hanya 200 ribu ton per bulan.

Kenaikan harga jagung yang berdampak pada mahalnya pakan ternak juga diakui Maringan Ginting, pedagang pakan ternak eceran di Desa Sigara-gara Kecamatan, Patumbak, Deli Serdang. Dikatakannya, sudah sebulan ini ia tak menjual jagung giling halus. Alasannya, selain mahal juga susah dicari.

“Biasa aku beli dari pabrik. Tapi sebulan ini katanya stok kosong. Jadi tak ada kujual,” katanya. Kondisi itu pun berimbas kepada para peternak. Sabar Sinaga salah seorang peternak ayam di Marindal II, Patumbak, Deli Serdang, mengaku karena mahalnya harga pakan ia menyiasatinya dengan mencampur ampas kelapa. “Kalau mengandalkan pakan, nggak sanggup lah. Sekarang kalau beli dari pabrik segoni ukuran 30 kg, bisa sampai Rp150 ribu. Mana sanggup kita,” akunya.

Sebelumnya diberitakan, harga jagung di tingkat petani pada sejumlah kabupaten pemasok jagung di Sumatera Utara terus mengalami fluktuasi dan bervariasi dalam beberapa bulan terakhir. Rata-rata di tingkat petani harga jagung itu dihargai Rp2.600 per kg. Sementara harga jagung giling di pasaran berkisar Rp80 ribu hingga Rp90 ribu per karung isi 10 kg.

Loading...