Pesimisme Pertumbuhan Domestik Bakal Ganjal Laju Rupiah

Meski menguat pada pembukaan perdagangan awal pekan ini (22/8), namun tren pelemahan rupiah diprediksi masih terus berlanjut. Pesimisme terhadap ekonomi serta pelonggaran moneter yang tertunda bakal menjadi penghalang bagi pergerakan Garuda ke zona hijau.

Seperti dilaporkan Bloomberg Index, rupiah mengawali perdagangan dengan penguatan tipis 3 poin atau 0,02% di Rp13.160 per dolar AS. Namun, pada pukul 08.25 WIB, mata uang Garuda langsung 9 poin atau 0,07% ke level Rp13.172 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar AS terpantau dibuka menguat 0,130 poin atau 0,14% ke posisi 94,641.

“BI 7-day RR rate yang menggantikan BI rate memang dipertahankan di level 5,25%,” ungkap Ekonom Samuel Sekuritas , Rangga Cipta. “Namun di sisi lain, Bank memangkas proyeksi pertumbuhan di 2016 karena pemangkasan anggaran pemerintah serta perlambatan .”

Menurut Rangga, pesimisme terhadap pertumbuhan serta pelonggaran moneter yang tertunda bisa meminta pelemahan rupiah di tengah penguatan dolar AS di pasar global. “Pernyataan Wakil Gubernur The Fed yang cukup percaya diri bahwa perekonomian AS sudah mendekati potensinya memicu kenaikan the greenback,” sambung Rangga.

Senada, Kepala Riset NH Securities Indonesia, Reza Priyambada, menambahkan bahwa hangatnya pembicaraan terkait kenaikan tingkat The Fed membuat laju dolar AS mampu menguat terhadap euro, dolar , dan juga rupiah. “Di sisi lain, perubahan acuan dari BI rate menjadi 7-day reverse repo yang angkanya lebih rendah kurang memberikan dorongan bagi rupiah untuk menguat,” katanya.

Loading...