Pesanan Barang AS Drop, Rupiah Berakhir Menguat

Rupiah - beritacenter.comRupiah - beritacenter.com

JAKARTA – Rupiah mampu mempertahankan posisi di teritori hijau pada Selasa (9/4) sore, menyusul pelemahan yang dialami greenback karena tertekan laporan pesanan barang tahan lama yang mengalami penurunan. Menurut Index pukul 15.56 WIB, Garuda menguat 34 poin atau 0,24% ke level Rp14.133 per AS.

Sementara itu, Bank siang tadi menetapkan kurs tengah berada di posisi Rp14.150 per dolar AS, melemah tipis 5 poin atau 0,03% dari perdagangan sebelumnya di level Rp14.145 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang Asia mengungguli greenback, dengan kenaikan tertinggi sebesar 0,18% menghampiri won Korea Selatan.

Dari pasar , indeks dolar AS cenderung bergerak lebih rendah pada hari Selasa, tertekan kombinasi data AS yang lemah dan kenaikan mata uang terkait komoditas seperti dolar Kanada dan Australia yang mendapat dukungan dari lonjakan harga minyak mentah. Mata uang Paman Sam terpantau terdepresiasi 0,049 poin atau 0,05% ke level 97,001 pada pukul 12.35 WIB.

Seperti diberitakan Reuters, indeks dolar AS telah kehilangan 35% pada hari sebelumnya, menandai penurunan harian terbesar sejak 20 Maret. Selain tekanan dari kenaikan mata uang terkait komoditas, greenback juga menerima sentimen negatif dari pesanan barang tahan lama AS yang dilaporkan menurun sepanjang Februari 2019.

Menurut Departemen Perdagangan AS, sepanjang bulan kedua kemarin, pesanan barang tahan lama AS merosot 1,6%, sebagian besar karena lebih sedikit pemesanan untuk pesawat komersial dan perangkat keras yang terkait pertahanan. Sementara itu, ekonom yang disurvei oleh MarketWatch memperkirakan penurunan sebesar 2,1%.

Pesanan jatuh 31% untuk pesawat komersial, kategori yang sering mengalami ayunan besar. Penurunan terjadi sebelum kontroversi mengenai jet Boeing baru setelah sepasang kecelakaan mematikan. Pesanan juga sedikit untuk mobil dan truk baru, mesin berat, komputer, dan peralatan jaringan. Kenaikan pesanan barang tahan lama yang semula dilaporkan 0,3% pada Januari direvisi turun menjadi 0,1%.

“Kekuatan dolar AS memuncak menjelang akhir pekan lalu, ketika data pekerjaan AS menunjukkan bahwa kenaikan upah telah melambat. Sejak itu, greenback belum dapat menemukan daya tarik,” kata ahli strategi senior di Barclays di Tokyo, Shin Kadota. “Dan, rebound terbaru dalam imbal hasil AS tidak memberikan banyak penguatan untuk greenback karena mereka masih tetap pada level rendah secara absolut.”

Loading...