Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Datar, Rupiah Ditutup Melemah

rupiah melemah

Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal kedua 2017 yang datar membuat rupiah tidak mampu melaju ke zona hijau, meski indeks AS juga kembali bergerak melemah. Menurut laporan Bloomberg Index pukul 15.59 WIB, mata uang Garuda menutup perdagangan awal pekan (7/8) ini dengan pelemahan sebesar 5 poin atau 0,04% ke level Rp13.321 per dolar AS.

Siang tadi, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) Indonesia pada kuartal kedua 2017 tercatat sebesar 5,01%, atau sama dengan pertumbuhan ekonomi di kuartal sebelumnya. Pertumbuhan ini didorong oleh hampir semua lapangan usaha, dengan pertumbuhan tertinggi dicapai lapangan usaha dan komunikasi yang meningkat 10,88%.

“Dari sisi domestik, pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal kedua 2017 dipengaruhi oleh belanja pemerintah yang meningkat dibandingkan kuartal II 2016, dengan mencapai Rp493,29 triliun atau sebesar 23,71% dari target, selain inflasi yang cukup terjaga,” kata Kepala BPS, Suhariyanto. “Sementara, sentimen yang memengaruhi adalah perbaikan ekonomi dunia yang mengatrol sejumlah komoditas.”

Sementara itu, dari pasar global, pergerakan indeks AS kembali melemah setelah sempat bangkit dari level terendah dalam 15 bulan pada akhir pekan lalu. Setelah dibuka dengan tipis 0,035 poin atau 0,04% di posisi 93,057, mata uang Paman Sam kembali melemah 0,202 poin atau 0,22% ke level 93,340 pada pukul 11.04 WIB.

Sebelumnya, mata uang greenback mampu rebound dari level terendah setelah akhir pekan lalu data statistik ketenagakerjaan AS menunjukkan angka yang positif. Angka non-farm payrolls AS pada bulan Juli meningkat lebih tinggi dari prediksi pasar, yaitu sebesar 209.000, sedangkan rata-rata pendapatan per jam meningkat 0,3% setelah naik 0,2% di bulan sebelumnya.

“Pekan ini, akan menjadi penting bagi AS. Kenaikan yang dibatasi oleh imbal hasil obligasi 10-tahun meskipun data payroll terlihat kuat, menunjukkan tetap adanya kekhawatiran terhadap inflasi AS,” kata senior FX strategist IG Securities, Junichi Ishikawa. “Data seperti indeks konsumen dan mungkin harus lebih baik dari perkiraan demi mengatasi kekhawatiran inflasi.”

Loading...