Pertumbuhan Ekonomi AS Turun, Rupiah Menguat ke Level Rp 14.380/USD

Rupiah - mediaindonesia.comRupiah - mediaindonesia.com

Jakarta – Setelah libur Paskah, kurs rupiah dibuka menguat sebesar 30 poin atau 0,21 persen ke level Rp 14.380 per AS di awal perdagangan pagi hari ini, Jumat (31/5). Sebelumnya, Rabu (29/5), Garuda berakhir terdepresiasi 35 poin atau 0,24 persen ke posisi Rp 14.410 per USD.

Sementara itu, indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the terhadap sejumlah mata uang utama terpantau hampir datar. Pada akhir perdagangan Kamis atau Jumat pagi WIB, indeks dolar AS terpantau turun 0,0008 persen menjadi 98,1441 lantaran para pedagang masih mempertimbangkan sejumlah utama Amerika Serikat yang baru saja dirilis.

Pada Kamis (30/5), Departemen Perdagangan Amerika Serikat melaporkan pertumbuhan ekonomi AS pada kuartal I 2019 direvisi turun ke tingkat tahunan di angka 3,1 persen dari sebelumnya yang mencapai 3,2 persen.

Departemen Perdagangan AS juga melaporkan jika pembaruan untuk pertumbuhan produk bruto (PDB) mencerminkan revisi turun untuk investasi bisnis dan investasi persediaan serta revisi naik untuk impor, yang merupakan pengurangan dalam perhitungan PDB. Revisi ini juga menurut mereka juga sebagian diimbangi oleh kenaikan revisi ekspor dan belanja konsumen.

Seperti dilansir Xinhua melalui Antara, pada pekan yang berakhir tanggal 25 Mei 2019, Departemen Tenaga Kerja mengungkapkan, klaim pengangguran awal Amerika Serikat, cara kasar untuk mengukur tingkat pemutusan hubungan kerja (PHK) berada di angka 215.000, naik 3.000 dari tingkat yang telah direvisi pekan sebelumnya. Adapun level pekan sebelumnya direvisi meningkat 1.000 dari 211.000 menjadi 212.000.

Di sisi lain, bursa saham saat ini masih menyesuaikan harganya untuk kemungkinan terjadinya perang dagang dalam jangka panjang. “ saham sedang berada di tengah penyesuaian harga untuk perang dagang jangka panjang,” ucap Soichiro Monji, senior strategist Sumitomo Mitsui DS Asset Management pada Reuters seperti dikutip dari Kontan.

Lebih lanjut Monji menuturkan, partisipan saat ini mulai mengubah komposisi portofolio untuk antisipasi perang dagang yang berkepanjangan. “Pertemuan KTT G20 mendatang akan melonggarkan tekanan pasar selama Amerika Serikat (AS) dan China bisa menggunakan event ini untuk bernegosiasi,” bebernya. KTT G20 sendiri dilaksanakan pada 28-29 Juni 2019 di Jepang. Saat ini mata uang Asia mayoritas justru menguat terhadap dolar AS, demikian pula dengan rupiah.

Loading...