Pertemuan G20 Tekan Dolar, Rupiah Dibuka Menguat Tipis

Ruang penguatan ternyata masih tersedia mengingat indeks AS yang terus melemah usai kegagalan kesepakatan G20 serta efek FOMC meeting yang mengecewakan pasar. Seperti dilaporkan Bloomberg Index, mata uang Garuda membuka perdagangan hari ini (21/3) dengan 6 poin atau 0,05% ke level Rp13.308 per . Kemudian, pada pukul 08.30 WIB, spot kembali 7 poin atau 0,05% ke Rp13.307 per dolar AS.

“Indeks dolar AS cenderung bergerak melemah akibat sikap Paman Sam yang menolak kesepakatan perdagangan bebas dalam pertemuan G20 di Jerman pada akhir pekan lalu,” ujar Research and Analyst PT , Agus Chandra. “Terkini, komentar AS yang menimbulkan kecemasan dalam sektor niaga juga melemahkan the greenback.”

Sementara itu, Ekonom Samuel Sekuritas Indonesia, Rangga Cipta, memaparkan bahwa komentar Presiden wilayah Chicago, Charles Evans, tentang Bank Sentral AS yang akan kembali menaikkan suku bunga, tidak berpengaruh terhadap peluang kenaikan yang saat ini merendah. Sementara, dari dalam negeri, aliran dana masuk ke SUN juga masih kuat sehingga menekan yield tenor 10 tahun ke kisaran 7,1%.

“Meski belum ada konfirmasi resmi dari S&P, harapan kenaikan peringkat utang ke investment saat ini sangat kuat sehinga meningkatkan daya tarik aset berdenominasi rupiah,” kata Rangga. “Ruang penguatan rupiah masih tersedia meski harapan komoditas saat ini terganggu oleh koreksi minyak.”

Hampir senada, Analis PT Binaartha Sekuritas, Reza Priyambada, juga menuturkan bahwa ruang penguatan rupiah didukung sentimen yang ada, terutama pergerakan dolar AS yang cenderung melemah. Selain itu, pelaku pasar juga menilai tidak ada hasil positif dari pertemuan G20 sehingga menekan laju the greenback.

“Dolar cenderung melemah merespons pertemuan tersebut sehingga menjadi peluang bagi mata uang domestik untuk kembali unggul,” tutur Reza. “Rupiah hari ini kemungkinan bergerak di kisaran Rp13.290 hingga Rp13.348 per dolar AS.”

Loading...