Pertemuan AS-China Batal, Rupiah Drop di Senin Sore

Rupiah ditutup melemah 50 poin atau 0,33% ke level Rp14.866 er dolar AS - www.kaskus.co.id

praktis tidak memiliki cukup tenaga untuk bangkit ke area hijau pada Senin (24/9) ini, ketika greenback relatif bergerak lebih tinggi seiring keputusan yang membatalkan pembicaraan dengan AS. Menurut data Index pukul 15.59 WIB, mata uang Garuda ditutup melemah 50 poin atau 0,33% ke level Rp14.866 er .

Sementara itu, Bank Indonesia siang tadi menetapkan kurs tengah berada di posisi Rp14.865 per AS, terdepresiasi 41 poin atau 0,28% dari perdagangan sebelumnya di level Rp14.824 per AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang Asia tidak berdaya melawan greenback, dengan pelemahan terdalam sebesar 0,39% dialami rupiah, disusul peso Filipina yang turun 0,28%.

Dari pasar global, indeks dolar AS bergerak lebih tinggi terhadap sekeranjang mata uang utama pada hari Senin, didukung optimisme investor bahwa Federal Reserve akan menaikkan pada minggu ini. Mata uang Paman Sam terpantau menguat 0,053 poin atau 0,06% ke level 94,273 pada pukul 10.41 WIB, setelah sebelumnya sudah ditutup naik pada akhir pekan (21/9) kemarin.

Dilansir Reuters, kenaikan yang dialami greenback imbas keyakinan investor bahwa Federal Reserve akan menaikkan suku bunga mereka pada pertemuan di tengah minggu ini. Limpahan data ekonomi AS yang membaik juga telah mendorong pasar untuk berspekulasi bahwa The Fed bakal kembali menaikkan suku bunga acuan mereka pada pertemuan di bulan Desember mendatang.

Meski demikian, kenaikan yang dialami dolar AS bisa berlangsung dalam waktu yang pendek jika ketegangan perdagangan antara AS dan China masih terus berlanjut. Menurut kabar terbaru, China telah membatalkan pertemuan perdagangan dengan AS dan telah menunda pembicaraan militer sebagai sikap protes terhadap Paman Sam karena telah menjatuhkan sanksi kepada agensi militer China.

“Perang dagang Trump ‘yang mudah dimenangkan’ tampaknya belum banyak memperbaiki ketidakseimbangan perdagangan AS dengan China atau negara lain, dan pemotongan pajak meledakkan ,” kata kepala strategi di ACL Global, Marshall Littler. “Jika AS tidak dapat menawarkan lebih banyak konsesi untuk menarik uang, itu mungkin harus menawarkan konsesi melalui greenback yang lemah untuk menarik uang guna mendanai defisit ini.”

Loading...