Persetujuan Impor Sapi Tak Kunjung Turun, Apfindo Desak Pemerintah

Jakarta – Sejumlah pengusaha yang tergabung dalam Asosiasi Produsen Daging dan Feedlot (Apfindo) mendesak untuk segera merilis Surat Persetujuan (SPI) sapi untuk tahun ini. Surat yang seharusnya sudah dikeluarkan oleh Kementerian Perdagangan pada 1 Januari lalu ini nyatanya belum diterima oleh Apfindo hingga saat ini.

“Belum keluar ( surat SPI-nya), sekarang sudah di Kementerian Perdagangan sedang diproses. Sebetulnya sudah melebihi waktu, seharusnya per 1 Januari 2016 sudah kita terima,” ujar Joni Liano, Direktur Eksekutif Apfindo di Jakarta, kemarin (5/1).

Keterlambatan SPI ini, dikatakan Joni, akan berimbas pada terganggunya kelancaran proses importasi. Para pelaku usaha juga tak bisa melakukan negosiasi jika belum memiliki SPI tersebut.

“Jelas akan mengganggu proses impor. Kita melakukan negosiasi dengan eksportir tentu harus memiliki SPI, jika tidak ada kami masih belum bisa membuat kesepakatan,” tandasnya.

Menko , dalam Rapat Koordinasi Terbatas (Rakortas) pada hari Senin (28/12), menetapkan jumlah impor sapi untuk tahun 2016 ini sebanyak 600.000 ekor. Porsi sapi impor yang masuk tersebut nantinya akan lebih diperbanyak pada kuartal pertama. Padahal menurut Joni, Indonesia memerlukan setidaknya 780.000 ekor sapi dan 90.000 ton daging untuk memenuhi kebutuhan konsumsi sepanjang tahun 2016. Hasil ini Ia kemukakan dalam acara “Focus Group Discussion” yang menjembatani Pemerintah dengan pihak-pihak berkepentingan.

“Pada 2015 kita bisa impor 600 ribu ekor lebih, sementara tahun 2016 ini meski ada peningkatan konsumsi, saya tidak tahu perhitungan Pemerintah apakah sapi lokal cukup. Mudah-mudahan kata-kata Pak Menko Darmin, ada evaluasi dan ada ‘adjustment’. Pada 2013 pernah seperti itu di jaman Pak Lutfi,” terang Joni.

Loading...