Persaingan Sengit di Indonesia, Grab dan Go-Jek Berpotensi Merugi?

Persaingan Grab dan Go-Jek - selular.idPersaingan Grab dan Go-Jek - selular.id

JAKARTA – Grab terus memberikan tekanan tanpa henti pada musuh bebuyutan mereka, Go-Jek, untuk menguasai market Indonesia, dengan mempromosikan digital dan . Namun, benturan tiada akhir dari kedua startup ini justru dinilai dapat merugikan keduanya, terutama terkait dengan kebijakan dan tuntutan dari dan mitra.

Dilansir Nikkei, menaklukkan Indonesia adalah upaya yang sangat mahal karena merupakan satu-satunya dari delapan Grab dengan pesaing kuat yang tumbuh di dalam negeri. Sebuah survei oleh peneliti , ecommerceIQ, pada bulan Februari 2018 menemukan bahwa 56% orang Indonesia menggunakan Go-Jek, diikuti oleh 33% untuk Grab, dan 8% untuk Uber. Namun, pembelian Uber memberi Grab momentum, dengan pendapatan lebih dari dua kali lipat pada tahun 2018.

“Indonesia adalah pasar terbesar di Asia Tenggara menurut jumlah penduduk dan pasar yang sangat penting bagi Grab,” kata Presiden Grab Indonesia, Ridzki Kramadibrata. “Selain itu, Indonesia juga merupakan rumah bagi lebih dari setengah (pengemudi dan mitra dagang kami) dan kami telah menginvestasikan lebih dari 1 miliar dolar di negara ini hingga saat ini.”

September tahun lalu, Grab membuka layanan baru di sebuah gedung tua yang tersembunyi di sudut Jakarta. Disebut Grab Kitchen, layanan ini memang ditujukan untuk menantang langsung Go-Food kepunyaan Go-Jek. Fasilitas 105 meter persegi ini beroperasi mulai jam 10 pagi hingga jam 10 malam, menangani 200 hingga 300 pesanan sehari. Konsumen yang menginginkan sate ayam atau teh susu cokelat cukup memesan melalui Grab.

Kepala unit pengiriman makanan Grab, Tomaso Rodriguez, mengatakan bahwa perusahaan memilih lokasi dan penyewa berdasarkan data permintaan-permintaan. Menurutnya, pengembangan bisnis makanan merupakan ‘langkah alami’ bagi Grab. Itu adalah cara yang jelas untuk mengekstraksi lebih banyak pendapatan dari jaringan pengemudi dan basis pelanggan yang ada.

Sementara itu, tanda-tanda persaingan pembayaran elektronik dapat ditemukan di seluruh pusat perbelanjaan di Jakarta. -toko memajang poster yang mengiklankan kampanye ‘cashback’ Go-Pay dan Ovo sebagai mitra Grab. Survei Financial Times Confidential Research akhir tahun lalu menunjukkan, hampir 75% responden Indonesia menggunakan Go-Pay, sedangkan 42% menggunakan Ovo.

Sudah setahun sejak Grab mengakuisisi operasi raksasa AS, Uber Technologies, di Asia Tenggara pada Maret lalu. Sejak itu, perusahaan Singapura telah bergegas untuk mengamankan dan kemitraan baru, mengumpulkan 4,5 miliar dolar AS dari investor regional dan global. Sebagian besar dana itu juga masuk ke Indonesia, tempat Grab pertama kali meletakkan saham pada tahun 2014.

Orang Indonesia dilaporkan mengunduh aplikasi Grab 13% lebih banyak daripada Go-Jek pada periode Januari-Maret tahun ini, menurut platform analisis aplikasi, App Annie. Di semua pasar, unduhan seumur hidup Grab melebihi Go-Jek dengan faktor 2,4. Jadi, keberhasilan di Indonesia akan memperkuat dominasi regional ASEAN.

Tidak ada tanda-tanda bahwa kompetisi keduanya akan menjadi dingin dalam waktu dekat. Pasalnya, beberapa perusahaan terbesar di dunia juga turut serta dalam permainan. Grab menggandeng SoftBank Group, Toyota Motor, dan Microsoft sebagai pendukung, sedangkan Go-Jek memiliki Google, Tencent Holdings, dan JD.com di sisinya.

Namun, terlepas dari kekuatan mereka yang besar dan terus berkembang, Grab dan Go-Jek tidak kebal terhadap risiko. Pemerintah Indonesia baru saja mengatakan akan menetapkan tarif minimum dan maksimum untuk mendukung pendapatan pengemudi tanpa merugikan konsumen, yang akhirnya berpotensi membebani perusahaan. Keputusan itu muncul sebagai tanggapan terhadap keluhan pengemudi tentang upah yang rendah.

“Grab dan Go-Jek telah berhasil mengembangkan ekosistem mereka dengan sangat baik,” kata mitra di konsultasi YCP Solidiance di Jakarta, Gervasius Samosir. “Namun, ada tantangan ketika berbicara mengenai pelanggan dan mitra bisnis mereka, baik itu pengemudi, pedagang, atau restoran. Baik Go-Jek dan Grab harus mengucurkan uang untuk mempertahankan kesetiaan mereka. Tetapi, game tanpa akhir ini harus dihentikan.”

Loading...