Permintaan Pasar Rendah, Indeks Manufaktur Indonesia Anjlok

Usai mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan tiap bulan selama 2 bulan sebelumnya, kini kembali memburuk pada bulan Oktober 2016. pesanan baik untuk pasar maupun internasional mengalami penurunan yang mengakibatkan dalam kondisi output, daya beli dan sektor tenaga kerja lebih rendah. Dari faktor harga, biaya input dan biaya pabrik meningkat pada kisaran lebih lemah di bawah perkiraan rata-rata jangka panjang.

Tercatat Purchasing Managers Index (PMI) Manufaktur Indonesia berdasar data dari Nikkei mengalami penurunan di bawah 50 untuk pertama kalinya dalam 3 bulan pada Oktober 2016. Data menunjukkan penurunan dari 50,9 di bulan September ke angka 48,7.

Turunnya PMI disebabkan karena rendahnya tingkat permintaan baru sejak Juli lalu. Partisipan dalam survei mengungkapkan jika arus pekerjaan baru menurun lantaran rendahnya permintaan dan kondisi cuaca yang buruk di Indonesia. Pasar eksternal juga jadi penyebab turunnya PMI.

Oleh sebab itu banyak pelaku bisnis yang membeli input lebih sedikit untuk produksi dan terjadi pelepasan tenaga kerja dalam bulan Oktober. Tingkat pembelian turun pada tingkat rendah, sedangkan pelepasan kerja juga ada di kisaran marginal.

Meski terjadi laju penurunan secara keseluruhan, tingkat kepemilikan barang mengalami kenaikan. Namun tingkat akumulasi hanya sedikit dan hampir sama seperti 2 bulan lalu. Stok praproduksi untuk Oktober mengalami kenaikan meski akumulasinya tidak terlalu besar.

Produsen barang di Indonesia merasakan dampak dari naiknya harga minyak, bahan kimia, plastik, karet, dan kertas yang mempengaruhi beban biaya produksi mereka. Walau demikian, tingkat inflasi turun ke posisi rendah 3 bulan dan ada di bawah kisaran rata-rata jangka panjang.

Sementara itu, waktu pengiriman rata-rata yang diperpendek membuat tingkat bisnis yang belum terselesaikan turun pada kisaran solid dan lebih cepat dari bulan September. Walau sektor manufaktur secara keseluruhan mengalami kemunduran, keputusan (BI) untuk melonggarkan kebijakan moneter kemungkinan besar mampu mendorong kembali kekuatan manufaktur hingga akhir tahun ini.

Loading...