Permintaan Meningkat, Pemerintah Berupaya Genjot Produksi Kopi di Indonesia

Kopi - gaya.tempo.coKopi - gaya.tempo.co

Indonesia dikenal sebagai produsen ke-4 terbesar di dunia setelah Brasil, Kolombia, dan Vietnam. Sebagian besar hasil kopi di Indonesia digunakan untuk kopi instan yang murah. Pasalnya, kopi di dalam negeri pun cukup tinggi, terutama kopi instan yang dikemas dalam kemasan sachet.

Tak hanya kopi-kopi instan murah saja, kopi-kopi berkualitas premium pun saat ini banyak diburu oleh masyarakat Indonesia. Misalnya saja seperti hasil kopi spesial di daerah Riung Gunung, Bogor, Jawa Barat, sekitar 70% hasil kopinya diekspor ke dan dijual di kedai-kedai kopi besar di berbagai penjuru dunia. Sayangnya kapasitas produksi kopi di Indonesia masih tergolong minim.

Oleh sebab itu, pemerintah dan perusahaan multinasional Nestle pun membangun sebuah organisasi non profit bernama Scopi untuk mengumpulkan seluruh petani kopi nusantara agar turut memasarkan produknya di berbagai acara dan memudahkan calon pembeli untuk dapat melakukan secara langsung dengan para produsen kopi.

“Scopi adalah platform berkelanjutan di Indonesia. Indonesia adalah salah satu eksportir kopi terbesar di dunia, namun tingkat produksi kopi di Indonesia tidak terlalu besar. Oleh sebab itu kami ingin memaksimalkan kuantitas produksi dengan memberikan pelatihan,” kata Executive Director Scopi, Veronica Herlina, seperti dilansir Nikkei.

Berdasarkan data International Coffee Organization (ICO), kopi nasional mengalami peningkatan hingga 174%. Pada 2000 hanya 100,8 metrik ton dan tahun 2016 lalu telah melonjak mencapai 276 metrik ton. Sementara itu, produksi kopi pada 2015 sebanyak 739.020 ton dan tahun 2016 turun 6,7% jadi 689,460 ton. Tahun 2017 produksi kopi nasional juga menurun sekitar 0,28%.

Kopi arabika sendiri termasuk salah satu komoditas yang permintaannya cukup tinggi di pasaran. Dalam program Scopi ini, Veronica mengaku juga akan merangkul pihak swasta untuk turut berpartisipasi. Setidaknya Scopi akan mengerahkan 60 pelatih ke 15 provinsi penghasil kopi di daerah dan Scopi menargetkan akan ada 18.000 petani yang mengikuti program tersebut.

Sementara itu, Kepala Pusat Pelatihan Pertanian Kementerian Pertanian Widi Hardjono menjelaskan jika pemerintah berkomitmen untuk meningkatkan produksi kopi nasional. Scopi menyumbangkan bantuan berupa standardisasi kurikulum internasional. “Kurikulum telah disusun merupakan cerminan keseriusan pemerintah untuk peningkatan profesionalisme petani dan yang dihasilkan,” jelas Widi. Dengan peningkatan produksi kopi diharapkan turut menggenjot angka ekspor, sehingga devisa negara yang disumbangkan pun akan semakin besar.

Loading...