Imbas Pandemi, Permintaan Layanan Telehealth di ASEAN Meningkat

Layanan Telehealth - www.mobihealthnews.comLayanan Telehealth - www.mobihealthnews.com

SINGAPURA – Operator layanan telehealth, yang memungkinkan pasien untuk berkonsultasi secara dengan staf medis, mengalami lonjakan di negara-negara karena pandemi COVID-19 semakin mendorong sektor perawatan online. Layanan semacam itu menjanjikan untuk mengambil sebagian beban lembaga medis ASEAN yang saat ini tengah bergulat dengan kasus virus corona.

Seperti diberitakan Nikkei, di Thailand, Indonesia, dan Singapura, penyedia telehealth melihat penggunaan layanan mereka meningkat di tengah kekhawatiran bahwa kunjungan fisik ke klinik dan rumah sakit dapat menyebabkan tertular COVID-19 saat berada dalam jangkauan orang yang terinfeksi. Menghubungkan pasien ke dokter dan apotek melalui aplikasi seluler dan bisnis, profitabilitasnya mengalami pertumbuhan 300% per tahun di kuartal ketiga 2020 di tengah pandemi.

“Ketika COVID-19 melanda, kami menyaksikan permintaan yang signifikan,” kata Kepala Eksekutif Doctor Raksa, Jaren Siew, yang berbasis di Thailand. “Efisiensi biaya dan aksesibilitas dokter selalu menjadi masalah bagi kesehatan, dan telehealth mengatasi kedua titik ini. Layanan menghilangkan batasan geografis dan memungkinkan pasien untuk berhubungan dengan dokter kapan saja, di mana saja.”

Sementara itu, startup asal Indonesia, Halodoc, yang memungkinkan pelanggan berkonsultasi secara virtual dengan dokter berlisensi melalui internet, mengklaim bahwa layanan mereka telah menjangkau lebih dari 20 juta orang di Indonesia. Jumlah pelanggan meningkat 10 kali lipat pada kuartal pertama tahun 2020 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Lockdown dan pembatasan pergerakan di 10 negara anggota ASEAN yang diberlakukan pada berbagai waktu selama tahun ini memang membuat pasien tidak punya banyak pilihan selain berkonsultasi dengan ahli medis dari jarak jauh untuk pemeriksaan rutin. “Telehealth muncul sebagai area penting selama pandemi untuk memastikan bahwa orang dapat menerima perawatan tanpa ke rumah sakit, kecuali jika diperlukan,” ujar Wakil Presiden Perawatan Kesehatan Barco Asia-Pasifik, Rachel Coxon.

Indonesia, negara terpadat di Asia Tenggara, memiliki lebih dari 600.000 kasus virus corona, menjadi yang terbanyak di kawasan ini. Perusahaan data dan analitik GlobalData mengamati bahwa kurangnya infrastruktur perawatan kesehatan yang memadai dan ketergantungan pada negara lain untuk pasokan medis telah membuat Indonesia kesulitan dalam menangani pandemi.

“Karena jarak sosial menjadi norma baru, hal itu akan terus mendorong permintaan untuk perawatan kesehatan jarak jauh,” tutur Kepala Eksekutif Halodoc, Jonathan Sudharta. “Telemedicine telah terbukti menjadi akses medis yang mudah bagi pasien yang tinggal di komunitas pedesaan yang jauh dari perawatan kesehatan yang baik.”

Google, Temasek asal Singapura, dan Bain and Company dalam sebuah laporan yang dirilis November 2020 kemarin mencatat bahwa beberapa negara di Asia Tenggara memang memiliki rasio dokter yang lebih rendah terhadap populasi umum dibandingkan dengan negara-negara seperti AS dan China. Indonesia dan Thailand memiliki rasio hanya 0,4 dokter per 1.000 orang. Beberapa negara tetangga ASEAN lebih tinggi, dengan Vietnam di angka 0,8, Filipina di kisaran 1,2, Malaysia dengan 1,6, dan Singapura di 2,3 per 1.000 orang.

Barco Asia-Pasifik mencatat bahwa popularitas perusahaan telehealth Indonesia, seperti Halodoc, Alodokter, dan GrabHealth, telah meroket selama pandemi dan diperkirakan akan tetap menjadi penguat pasar perawatan kesehatan domestik pasca-virus corona. Sudharta dari Halodoc berharap untuk menutup kesenjangan perawatan kesehatan, mencatat bahwa telemedicine dapat mengurangi potensi paparan infeksi di institusi medis.

pun telah memperhatikan. Halodoc, yang didukung oleh Gojek, adalah penerima manfaat dari minat yang meningkat. Pada bulan Juli kemarin, diumumkan bahwa mereka mengumpulkan hampir 100 juta AS, dengan pendukung termasuk Prudential, Allianz X, dan Bill and Melinda Gates Foundation. Sementara, See-Mode Technologies yang berbasis di Singapura, adalah penerima manfaat lainnya, mengumpulkan 7 juta AS, sedangkan Doctor Anywhere mengumpulkan 27 juta AS dan ingin berekspansi ke Malaysia dan Filipina.

Operator telehealth sendiri menawarkan berbagai layanan, mulai dari konsultasi umum hingga pemantauan berkelanjutan atas kondisi medis tertentu dan sesi terapi di rumah untuk pasien, yang semuanya dapat dilakukan tanpa mengunjungi klinik dan rumah sakit. Sebuah laporan dari Fortune Business Insights memperkirakan pasar telemedicine global akan tumbuh dari 34,3 miliar dolar AS pada tahun 2018 menjadi 185,7 miliar dolar AS pada tahun 2026 dengan tingkat pertumbuhan tahunan gabungan sebesar 23,5%.

Pandemi telah mendorong di Asia untuk memeriksa kembali bagaimana telehealth atau telemedicine cocok dengan sistem perawatan kesehatan mereka. Di Jepang, peraturan telah dilonggarkan untuk sementara agar dokter dapat melakukan kunjungan secara virtual. Sementara, di Indonesia, menurut firma hukum Baker McKenzie, mewajibkan para profesional medis yang berniat untuk memberikan perawatan melalui media telehealth setidaknya memiliki surat registrasi dan izin praktik di fasilitas kesehatan masing-masing.

Loading...