Perluas Jangkauan MRO, Garuda Indonesia Bikin Hangar di Uni Emirat Arab

Garuda Indonesia - eljohnnews.comGaruda Indonesia - eljohnnews.com

BANGKOK – Raksasa penerbangan asal Tanah Air, , dikabarkan berencana untuk membangun hangar di Uni Emirat Arab guna memperluas jangkauan internasional mereka dalam fasilitas perawatan . Perusahaan telah mengalokasikan sebesar 400 juta AS untuk perluasan fasilitas selama lima tahun ke depan.

Diberitakan , Garuda Maintenance Facility (GMF) AeroAsia, anak perusahaan yang go public tahun 2017, sedang mencari usaha patungan mitra lokal non-maskapai di Uni Emirat Arab. Menurut CEO GMF AeroAsia, Iwan Joeniarto, kesepakatan diharapkan akan ditandatangani pada akhir tahun ini, dengan pengoperasian dimulai sekitar tahun 2020 mendatang.

“Meskipun Timur Tengah adalah pusat transit udara yang penting, tetapi wilayah ini memiliki kekurangan fasilitas pemeliharaan pesawat, sebagian karena tingginya biaya ,” kata Iwan. “Hangar di Uni Emirat Arab milik GMF AeroAsia akan memberikan perawatan ringan dan berat untuk pesawat berbadan lebar dan sempit, tetapi dengan fokus yang lebih kuat pada yang kedua.”

GMF AeroAsia sendiri sudah mengoperasikan empat fasilitas MRO, termasuk hanggar pesawat sempit terbesar di dunia yang berada di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Tetapi, perusahaan ingin memperluas jangkauan MRO di luar negeri untuk melakukan lebih banyak bisnis dengan lebih banyak maskapai penerbangan. Insinyur dan teknisi akan dipekerjakan dari -negara seperti Indonesia, Pakistan, Bangladesh, dan Filipina untuk menjaga biaya tenaga kerja tetap rendah.

Awal tahun ini, perusahaan menandatangani nota kesepahaman dengan perusahaan penyewaan pesawat Korea Selatan, TWA Aero, untuk membangun fasilitas pemeliharaan dan perbaikan di negara itu. Hangar di Batam juga sedang dalam pengembangan. Rencana diharapkan akan selesai pada akhir tahun, dengan dimulainya operasi pada tahun 2020.

Batam akan menjadi alternatif bagi pelanggan yang saat ini berasal dari Jepang, Korea Selatan, Thailand, atau Vietnam, karena tidak sejauh Jakarta. Sementara itu, Surabaya, yang terletak di sisi timur pulau Jawa, adalah lokasi lain yang diincar perusahaan untuk melakukan ekspansi dalam rangka menangkap pelanggan Australia.

Di tengah kesulitan di perusahaan induk Garuda, yang melaporkan kerugian untuk 2017 dan dikonfirmasi menunda semua pengiriman pesawat untuk 2018, GMF AeroAsia semakin beralih ke maskapai lain untuk kontrak MRO. Perusahaan ini bertujuan untuk memiliki akun maskapai non-afiliasi sebesar 60% dari keseluruhan pendapatan dalam dua hingga tiga tahun, naik dari 37% pada tahun 2017.

Berita bagus untuk GMF AeroAsia adalah bahwa permintaan pesawat di Asia sedang melonjak. Dari 41.030 pesawat baru yang diproyeksikan akan dikirim ke seluruh dunia mulai tahun 2017 hingga tahun 2036, 39% di antaranya akan terbang ke wilayah Asia-Pasifik, menurut Boeing. Permintaan ini terutama didorong oleh maskapai murah, yang cenderung melakukan outsourcing operasi pemeliharaan.

Di Asia Tenggara, Singapura telah lama menjadi pusat MRO dominan yang melayani operator layanan penuh. Tetapi, dengan biaya tenaga kerja yang lebih murah, lebih banyak lahan, dan juga yang menjanjikan, Indonesia dapat muncul sebagai alternatif untuk maskapai berbiaya rendah, demikian menurut GMF AeroAsia.

Indonesia sendiri diperkirakan akan mengambil alih posisi Singapura dalam belanja MRO pada 2027 untuk menjadi pemimpin di Asia Tenggara, menurut firma riset Frost & Sullivan. Belanja MRO Indonesia diproyeksikan naik hampir dua kali lipat menjadi 2,1 miliar dolar AS, dari angka 1,1 miliar dolar AS di tahun 2017. Di Singapura, angka tersebut diperkirakan akan meningkat sekitar 40% menjadi 1,7 miliar dolar AS pada periode yang sama.

Loading...