Perlambatan Pertumbuhan China Bakal Pengaruhi Ekonomi Asia di 2019

Perlambatan Pertumbuhan China - www.kelasinvestasi.comPerlambatan Pertumbuhan China - www.kelasinvestasi.com

SINGAPURA – bakal membentuk kembali prospek ekonomi Asia pada tahun 2019 ini ketika tersebut menghadapi tantangan internal dan eksternal, termasuk ketegangan dengan AS. Sejumlah ekonom memperkirakan, Negeri Panda akan melambat dibandingkan tahun 2018 kemarin, yang akhirnya memengaruhi ekonomi di seluruh Asia.

Seperti dilansir Nikkei, sejalan dengan tren global, ekonomi regional cenderung melihat pertumbuhan yang lebih lambat pada tahun ini, demikian perkiraan para ekonom dan . Menurut bank asal Jepang, Nomura, salah satu tantangan utama yang dihadapi oleh Benua Asia adalah perlambatan yang diperkirakan terjadi di China, terutama di paruh pertama tahun ini.

“Pertumbuhan China akan jauh lebih lambat dalam beberapa bulan mendatang, merujuk pada penjualan mobil yang lemah,” ujar kepala ekonom China di Nomura, Ting Lu. “Kami percaya penurunan semacam ini akan meluas hingga paruh pertama. Selain itu, penjualan peralatan konstruksi juga akan turun karena berakhirnya langkah-langkah stimulus yang bertujuan mendorong pembelian.”

Selain domestik, tensi perdagangan dengan Negeri Paman Sam kemungkinan akan membebani perekonomian Negeri Tirai Bambu. Data menunjukkan bahwa kenaikan tarif AS pada ekspor barang asal China sudah mulai ‘menggigit’, dengan Indeks Manajer Pembelian Manufaktur pemerintah China menunjukkan penurunan dalam pesanan ekspor selama beberapa bulan terakhir hingga November 2018.

Dalam sebuah baru-baru ini, HSBC mengatakan bahwa eskalasi perang perdagangan dapat mencukur 0,7 hingga 0,8 poin persentase dari DB China pada tahun 2019. Sementara, menurut survei ekonom China terbaru yang disusun oleh Nikkei, pertumbuhan ekonomi negara itu diperkirakan akan melambat menjadi 6,2% pada 2019 dari sebelumnya 6,6% pada 2018.

Perlambatan di China otomatis akan memiliki efek riak di seluruh Asia, karena merupakan mitra dagang utama bagi sebagian besar negara di ini. Hal itu juga akan memengaruhi kepercayaan pasar di Benua Kuning. Sebelumnya, sebagian besar ekonomi di Asia Tenggara mulai melambat pada paruh kedua tahun 2018 ketika ketegangan perdagangan AS-China meningkat.

Pada saat yang sama, pertumbuhan sektor teknologi melambat di seluruh dunia, yang akan mengurangi pertumbuhan eksportir elektronik. Statistik Perdagangan Semikonduktor Dunia pada bulan November kemarin memperkirakan pasar chip secara keseluruhan hanya akan tumbuh 2,6% pada tahun 2019, dibandingkan dengan 15,7% pada tahun 2018, karena melemahnya permintaan untuk smartphone.

Faktor lain yang berpotensi mengganggu kestabilan ekonomi di Asia pada 2019 adalah pemilihan umum, dan ketidakpastian politik yang mungkin terjadi. Tes pemilihan besar pertama di kawasan ini dijadwalkan pada 24 Februari, ketika rakyat Thailand menuju ke tempat pemungutan suara untuk pemilihan parlemen, yang akan menandai tonggak bersejarah kembalinya negara itu ke pemerintahan sipil.

“Bahkan, jika pemilihan umum berjalan dengan lancar, ketidakpastian politik kemungkinan akan tetap menghambat prospek Thailand,” menurut sebuah laporan oleh Capital Economics. “Efek lain dari protes dan konflik kekerasan, mirip dengan yang terjadi pada 2010 dan 2014, akan memberikan pukulan signifikan terhadap ekonomi.”

Sementara, Indonesia akan mengadakan pemilihan presiden pada bulan April, dan akan ada pemilihan jangka menengah di Filipina pada bulan berikutnya. India juga akan mengadakan pemilihan umum pada bulan Mei. Awan di cakrawala politik sudah memengaruhi ekonomi terbesar ketiga di Asia, dengan kepala bank sentral, Urjit Patel, mengundurkan diri pada Desember kemarin karena perbedaan kebijakan dengan Perdana Menteri Narendra Modi.

Beberapa negara berkembang mungkin perlu untuk terus menaikkan suku bunga guna menjaga ekonomi lokal tetap stabil karena mengisyaratkan kenaikan suku bunga pada pertemuan kebijakan terakhir mereka. Pada tanggal 20 Desember kemarin, indeks saham di pasar negara berkembang turun ketika menyiratkan dua kenaikan suku bunga pada tahun 2019. Pengetatan kebijakan cenderung menarik modal ke AS dari pasar negara berkembang, dan itu bisa melemahkan konsumsi dan investasi domestik.

Loading...