Peristiwa Penting Tahun 2019, Mulai Pilpres hingga Rilis Jaringan 5G

Jaringan 5G - pontianak.tribunnews.comJaringan 5G - pontianak.tribunnews.com

JAKARTA/JEPANG – Sepanjang tahun ini, banyak peristiwa menarik yang telah tersaji, mulai terpilihnya dua Muslim pertama sebagai anggota Kongres AS hingga laju kenaikan agresif yang membuat banyak dunia melempem. Tidak kalah dari tahun 2018, pada tahun 2019 mendatang, sudah banyak agenda yang dinantikan oleh banyak pihak, mulai dari politik hingga .

Seperti dilansir Nikkei, dari dalam negeri, agenda utama pada tahun depan adalah pemilihan presiden yang bakal berlangsung bulan April. Pemilu ini sekali lagi mempertemukan Joko Widodo dengan Prabowo Subianto, sebuah pertandingan ulang yang dijuluki ‘El Clasico’. Tetapi, Jokowi juga mungkin menghadapi penantang gigih lain di tahun 2019, pasar mata uang yang berubah-ubah.

Seperti diketahui, rupiah yang terus merosot telah menyiksa pemerintahan Jokowi sepanjang tahun 2018. Pada satu titik, mata uang Garuda sempat melemah sebanyak 11 persen terhadap AS. Meskipun tetap terkendali, kandidat wakil presiden Prabowo, Sandiaga Uno, telah memperingatkan para ibu rumah tangga tentang ancaman kenaikan .

“Jajak pendapat terbaru menunjukkan Jokowi memimpin di hampir 55 persen dukungan, sedangkan Prabowo Subianto di 30,6 persen,” ujar profesor di Universitas Ritsumeikan Jepang, Jun Honna. “Untuk mengimbangi, kubu Prabowo mungkin akan mencari cara untuk menggabungkan nasionalisme ekonomi dengan populisme menjelang hari pemungutan suara.”

Masih dari ranah politik, tetapi berasal dari India, Perdana Menteri Narendra Modi berharap untuk mendapatkan masa jabatan lima tahun kedua dalam pemilu berikutnya, yang akan diadakan pada Mei 2019. Tetapi, dia mungkin menghadapi pertempuran yang berat setelah partainya kehilangan banyak suara dalam jajak pendapat baru-baru ini. Kongres Nasional India, oposisi utama, memberikan penampilan luar biasa di Rajasthan, Madhya Pradesh, dan Chhattisgarh.

Sementara itu, Thailand akan mengadakan pemilihan umum pada 24 Februari mendatang, yang ke-26 sejak penggulingan monarki absolut pada tahun 1932. Hanya satu pemerintah Thailand terpilih yang pernah menjabat selama empat tahun penuh, yaitu Perdana Menteri Thaksin Shinawatra, pada tahun 2001. Thaksin juga melakukan dua hal yang belum pernah terjadi sebelumnya, terpilih kembali pada tahun 2005 dan meningkatkan mayoritas parlementernya.

Peristiwa politik lain yang diantisipasi pada tahun depan adalah pertemuan Presiden AS, Donald Trump, dengan pemimpin Korea Utara, Kim Jong-un, jilid kedua. Tetapi, tampaknya tidak mungkin bahwa KTT kedua ini akan menghasilkan kemajuan yang lebih dari pertemuan bersejarah pertama mereka di Singapura pada Juni lalu. Pasalnya, Washington dan Pyongyang tetap berselisih mengenai cara melakukan denuklirisasi Semenanjung Korea.

Bergeser ke sektor ekonomi, tahun 2019 diprediksi akan menjadi periode bergejolak bagi pasar . Federal Reserve berencana untuk menaikkan suku bunga sebanyak dua kali pada 2019, sebuah langkah yang diperkirakan akan memicu arus modal keluar dari negara-negara berkembang. “Ini dapat memengaruhi ekonomi Asia secara negatif,” tutur ahli strategi pasar untuk J.P. Morgan Funds, Yoshinori Shigemi.

Di sisi China, Organization for Economic Cooperation and Development telah memangkas perkiraan pertumbuhan negara tersebut menjadi 6,3 persen untuk tahun 2019, dan memprediksi perlambatan ke level terendah 30 tahun di angka 6 persen pada tahun 2020. Alasan utama untuk prospek perlambatan ini adalah sengketa dengan Washington.

Ketegangan perdagangan AS dan ekonomi yang melambat diperkirakan akan membebani konsumen China, karena mereka mempertimbangkan apakah akan melakukan pembelian besar, termasuk mobil dan properti. Pembuat mobil China baru saja menyaksikan penurunan pertama di pasar mobil dalam 28 tahun. The China Association of Automobile Manufacturers memperkirakan tidak ada pertumbuhan untuk 2019, dan dealer kemungkinan memangkas harga untuk meningkatkan penjualan.

Untuk dunia teknologi, menarik ditunggu kehadiran jaringan 5G. Konsumen biasa, atau setidaknya pengadopsi awal, pada akhirnya akan dapat merasakan teknologi 5G pada tahun 2019, memungkinkan mereka untuk mengambil keuntungan dari kecepatan broadband pada smartphone dan perangkat seluler lainnya. Industri telekomunikasi mempromosikan 5G sebagai langkah maju yang besar, yang pada akhirnya membentuk dasar kemampuan futuristik seperti panggilan holografis, komputasi AI, dan bahkan operasi jarak jauh.

Sementara itu, layar smartphone telah tumbuh lebih besar selama bertahun-tahun, membuatnya lebih mudah untuk menonton video, tetapi lebih sulit untuk menaruh perangkat di saku jeans atau dompet kecil. Nah, solusi akan tiba pada tahun 2019, yaitu ponsel cerdas dengan layar lipat. Samsung Electronics dan Huawei Technologies China, berencana untuk meluncurkan handset lipat pertama mereka di tahun mendatang.

Loading...