Perdagangan Selasa Pagi, Rupiah Berbalik Melemah

Rupiah - kumparan.comRupiah - kumparan.com

JAKARTA – harus terjungkal ke area merah pada Selasa (22/9) pagi. Setelah dibuka stagnan, Garuda terpantau melemah 40 poin atau 0,27% ke level Rp14.740 per dolar AS pada pukul 09.08 WIB. Sebelumnya, spot sempat berakhir menguat 35 poin atau 0,24% di posisi Rp14.700 per dolar AS pada Senin (21/9) sore kemarin.

“Kemarin, penguatan rupiah mayoritas dipengaruhi oleh sentimen eksternal. Rupiah berhasil menguat setelah dolar AS tertekan akibat pelaku pasar khawatir pemulihan AS belum stabil,” tutur Kepala Ekonom Bank Central , David Sumual, dikutip dari Kontan. “Penguatan rupiah juga didukung kenaikan yuan karena ada aliran dana yang besar ke mata uang tersebut.”

Sementara itu, Direktur Utama TRFX Garuda Berjangka, Ibrahim, menilai bahwa kenaikan rupiah kemarin ditunjang pelemahan dolar AS serta distribusi obat terapi COVID-19. Dengan bertambahnya pasien COVID-19 di , khususnya di DKI Jakarta, melalui PT Bio Farma (Persero) di bulan September ini akan memproduksi sebanyak 4,2 juta tablet Oseltamivir. “Pasar optimistis bahwa tablet Oseltamivir dapat menekan dan membantu pasien kembali sembuh,” ujar Ibrahim.

Untuk transaksi hari ini, David menilai rupiah berpotensi mengalami pelemahan, walau cenderung tipis. Pasalnya, jika bursa menurun, akan berdampak pada pasar emerging market, termasuk mata uang Garuda. “Rupiah kemungkinan bergerak dalam kisaran Rp14.650 hingga Rp14.750 per dolar AS,” sambung David.

Nyaris senada, Kepala Riset dan Edukasi Monex Investindo Futures, Ariston Tjendra, juga mengatakan bahwa pelaku pasar harus waspada karena rupiah berpotensi kembali tertekan. Sentimen negatif bisa datang dari penurunan indeks saham Asia dan Eropa, yang bisa berakibat menekan rupiah. Untuk transaksi hari ini, ia memprediksi spot bergulir di rentang Rp14.600 hingga Rp14.800 per dolar AS.

Hasil analisis CNBC Indonesia juga menuturkan bahwa nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tampaknya akan melemah di perdagangan pasar spot hari ini. Pasalnya, tanda-tanda depresiasi rupiah sudah terlihat di pasar Non-Deliverable Market (NDF). Pasar NDF sendiri sering memengaruhi pembentukan di pasar spot, sehingga tak jarang diikuti pasar spot.

Loading...