Perdagangan China-AS Lebih Proteksionis, Yuan Sentuh Level Terendah

HONG KONG – Mata uang menyentuh level terendah sejak krisis tahun 2008 pada Selasa (15/11) kemarin imbas kemenangan mengejutkan Donald Trump dalam Pilpres AS. Ancaman Trump untuk menerapkan hingga 45 persen pada impor China menghantui stabilisasi Negeri Tirai Bambu serta hubungan paling penting di dunia.

Selasa pagi, People’s Bank of China mengumumkan referensi nilai tukar terhadap AS berada di level 6,8495. Hal ini menandai penurunan selama delapan hari berturut-turut serta level terendah sejak Desember 2008. Sebelumnya, mulai Juli 2008 hingga Juni 2010, People’s Bank of China menetapkan berada di posisi 6,83 per dolar AS.

Salah satu faktor kunci di balik penyusutan yuan adalah kemenangan tak terduga Trump dalam Pilpres AS. Yuan tergelincir ke posisi terendah dalam enam tahun terakhir karena kekhawatiran terkait hubungan perdagangan China dengan AS yang diprediksi lebih proteksionis, sehingga memicu alasan untuk menjual mata uang tersebut.

Untuk -negara berkembang, melemahnya mata uang versus dolar AS merupakan sinyal bahaya. Dalam keadaan normal, hal ini akan menimbulkan gejolak. Namun, pemerintah China justru tidak terlalu khawatir dan bahkan mungkin melihat ini sebagai kesempatan untuk mengembalikan pertumbuhan perekonomian mereka.

Menurut Standard Chartered Plc., proteksionisme berpotensi memicu lebih banyak penggunaan untuk yuan. Di sisi lain, adanya tarif dapat mendorong People’s Bank of China untuk membiarkan yuan melemah lebih lanjut.

“Jika proteksionisme tidak meningkat secara global, China mungkin akan membalas dengan penyusutan mata uang yang lebih besar,” papar Ekonom Macquarie Capitalm, Larry Hu. “Ini tentu akan menjadi perang dagang dan menyakiti semua orang.”

Loading...