Perbaiki Penjualan, Antam Bakal Ekspor 2,7 Juta Ton Nikel Kadar Rendah

nikel - asia.nikkei.com

JAKARTA – pertambangan milik , PT Aneka Tambang atau , ingin memperbaiki dengan dimulainya kembali bijih pada bulan ini setelah sebelumnya terjadi larangan selama tiga tahun. Perusahaan mengatakan, perluasan kapasitas peleburan dalam negeri akan memungkinkan peningkatan menjadi lebih dari empat kali dibandingkan tahun lalu.

Direktur Operasi PT Antam, Hari Widjajanto, pada Selasa (2/5) kemarin mengatakan bahwa perusahaan telah mendapat izin untuk mengekspor hingga 2,7 juta metrik ton basah (wmt) bijih nikel kadar rendah selama satu tahun, yang semuanya akan dikirimkan ke China mulai bulan ini. Antam sendiri mencari kuota ekspor tambahan sebesar 3,7 juta wmt karena banjir permintaan setelah pelarangan pertama kali mereda pada bulan Januari, yang sebagian besar berasal dari China.

“Kami telah menerima hampir 60 letter of intent yang meminta kombinasi 100 juta wmt,” kata Widjajanto kepada wartawan setelah rapat umum pemegang tahunan, kemarin. “Tetapi, kami belum bisa memberikan semuanya.”

Sepanjang tahun lalu, Antam menghasilkan 1,6 juta wmt bijih nikel untuk smelter , termasuk pabriknya sendiri. Perusahaan membukukan laba bersih sebesar Rp64 miliar di tahun 2016. Saat ini, Antam adalah satu dari dua penambang nikel yang telah mendapatkan izin ekspor menyusul perubahan kebijakan, karena mereka telah memenuhi persyaratan baru yang mencakup pembangunan peleburan mereka sendiri.

Antam juga berharap dapat meningkatkan produksi feronikel, menyusul ekspansi pabriknya di Sulawesi pada akhir tahun lalu. Ada juga tanda-tanda pulihnya permintaan emas sejak terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden AS. “Saat ini, kami memiliki banyak katalis positif dan investor memperkirakan laba kami akan meningkat di tahun 2017,” sambung Widjajanto.

Pada pertemuan kemarin, posisi Tedy Badrujaman sebagai direktur digantikan oleh Arie Prabowo Ariotedjo, mantan direktur di Bukit Asam, perusahaan pertambangan batu bara milik negara. Widjajanto mengatakan, keputusan pemerintah menunjuk Ariotedjo terkait dengan rencana untuk mengelompokkan beberapa perusahaan pertambangan negara, termasuk Antam dan Bukit Asam, di bawah satu perusahaan induk.

Loading...