Perang Mata Uang AS-China Pukul Ekonomi Jepang dan Negara ASEAN

Mata Uang Negara ASEAN - rilis.idMata Uang Negara ASEAN - rilis.id

TOKYO – Konflik antara AS dan China yang tidak kunjung berakhir tampaknya mulai menjalar ke perang kedua negara. Konflik ini pun berimbas negatif ke pasar keuangan global. Bahkan, Jepang dan Korea Selatan diprediksi akan menerima efek terburuk, selain negara-negara yang juga akan mengalami penurunan permintaan dalam ekspor.

“Saya ragu Perdana Menteri Jepang, Shinzo Abe, telah menelepon politikus Moon Jae-in untuk membandingkan catatan kedua negara,” ujar William Pesek, jurnalis yang berbasis di Tokyo. “Tetapi, mereka bisa dibilang akan mengalami kerusakan saat Presiden AS, Donald Trump, memantul melalui China. Efek knock-on baru saja dimulai, tidak hanya di Asia Utara, tetapi di seluruh wilayah Asia-Pasifik.”

Pada tanggal 5 Agustus kemarin, Beijing seolah ‘membiarkan’ yuan untuk menembus tanda psikologis penting ke level tujuh dolar AS untuk pertama kalinya sejak 2008 silam. Ancaman tarif 10% terhadap barang senilai 300 miliar dolar AS mungkin juga bukan yang terakhir untuk Presiden China, Xi Jinping. Beberapa jam setelah yuan terpuruk, Departemen Keuangan AS menyebut Negeri Panda sebagai ‘manipulator mata uang’ untuk pertama kalinya sejak 1994.

Berita baiknya, sejauh ini, People’s Bank of China tidak membiarkan yuan jatuh dengan cepat. Pemerintah Xi ingin menghindari kepanikan pasar dunia yang sudah gelisah. Namun, di lain sisi, yuan jatuh ke posisi lebih lemah dari tujuh per dolar AS, yang menunjukkan bahwa AS dan China telah kehilangan semua harapan akan kesepakatan perdagangan. “Memburuknya hubungan AS-China ini akan menjadi negatif bagi kepercayaan ekonomi dan sentimen pasar di sisa tahun ini,” kata Arthur Kroeber dari Gavekal Research.

Tensi AS-China yang makin memanas memberikan efek domino bagi negara lain. Ekonomi Korea Selatan menanggung beban dari pertumbuhan Tiongkok yang melambat. Ekspor Negeri Ginseng ke China turun 16,3%, dengan pengiriman semikonduktor ke China turun lebih dari 28%. Ketika pertumbuhan Korea melambat, pengangguran kaum muda berada di angka 10,5%.

Hal yang sama berlaku untuk Jepang, ketika upah riil baru saja jatuh untuk enam bulan berturut-turut pada Juni kemarin. Itu merupakan pukulan terhadap upaya reflation Abe selama hampir tujuh tahun, yang sebagian besar didorong oleh pelemahan yen. Mata uang Jepang sekarang sedikit melonjak karena mencari perlindungan dari efek perang AS dan China.

Pasar bergejolak dengan spekulasi bahwa Bank of Japan dan Kementerian Keuangan setempat akan membatasi yen, meskipun hal terakhir yang diinginkan pemerintahan Abe adalah bergabung dengan China dalam peringkat manipulasi mata uang. Bahkan, jika China mengancam untuk ‘mempersenjatai’ nilai tukarnya, seperti yang dikatakan oleh Julian Evans-Pritchard dari Capital Economics, Jepang lebih suka meredam ketegangan sebelum pembicaraan perdagangan dengan AS.

Di Asia Tenggara, kondisinya tidak jauh lebih baik. Sementara mata uang di Indonesia, Malaysia, Thailand, dan di negara lain tidak lagi dipatok terhadap dolar AS, banyak negara mempertahankan tautan ‘lunak’, kisaran pilihan yang mendukung industri lokal. Semua taruhan dibatalkan jika Trump secara aktif melemahkan dolar AS, menciptakan tarik-ulur dengan China yang membuat ekonomi Asia tidak seimbang.

“Perang perdagangan juga merusak permintaan global, karena penurunan minyak di bawah 54 dolar AS per barel,” sambung Pesek. “Hal ini berbahaya bagi Indonesia dan Malaysia yang bergantung pada sumber daya karena Presiden Indonesia, Joko Widodo, dan Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Mohamad, berharap untuk menggunakan hasil ekspor untuk membayar utang pemerintah dan membiayai investasi dalam pendidikan dan pelatihan.”

Menurut Piyush Gupta, kepala eksekutif DBS Group, pelemahan yuan mengurangi daya beli konsumen China, yang berdampak buruk bagi pertumbuhan di Singapura, Vietnam, hingga Australia. Dalam sebuah wawancara dengan CNBC, ia menuturkan bahwa perang dagang dapat menciptakan tingkat kepercayaan yang lebih rendah.

Penurunan kurs yuan membuat pabrik-pabrik Vietnam kurang kompetitif. Hal itu juga membuat resor pantai Thailand dan distrik perbelanjaan Singapura kurang terjangkau bagi pelancong asal Tiongkok. Ini pun meningkatkan tekanan untuk lebih banyak penurunan suku bunga di Filipina, Indonesia, dan Malaysia, juga membuat bijih besi, tembaga, dan sumber daya lainnya yang menjadi andalan Australia lebih mahal untuk China.

Loading...