Perang Kembali Berkobar di Hudaidah, Jutaan Warga Yaman Kelaparan

Perang di Hudaidah - www.republika.co.idPerang di Hudaidah - www.republika.co.id

Pada akhir pekan kemarin, koalisi yang dipimpin dan Uni Emirat Arab kembali meluncurkan serangan ke Hudaidah, Yaman, sebagai bagian dari peringatan terakhir terhadap pemberontak Houthi. Imbasnya, jutaan orang di Yaman menghadapi salah satu ancaman kelaparan terburuk yang pernah terjadi di dunia dalam beberapa dasawarsa terakhir.

Seperti dikutip TRT World, dengan menyerang Hudaidah, koalisi pimpinan Arab Saudi bertujuan mengambil kendali dari pemberontak yang didukung Iran, yang mulai memperluas kekuasaan mereka di Yaman pada tahun 2015, setahun setelah pemberontakan melawan pemerintahan Abd Rabbu Mansour Hadi. Eskalasi terbaru mengintensifkan pertarungan, mendorong puluhan ribu orang keluar dari daerah itu, sementara sisanya meninggalkan kota yang terjebak.

Hudaidah sendiri adalah sebuah kota yang terletak di Laut Merah dan dihuni sekitar 600 ribu orang. Ini adalah salah satu kota terpenting di Yaman, yang telah menjadi gerbang masuk 80 persen makanan impor dan pasokan bantuan. Kemudian, pemberontak Houthi mengendalikan kota ini sejak tahun 2015, serta sebagian besar bagian utara Yaman dan beberapa pelabuhan di barat.

Arab Saudi sendiri telah memberlakukan blokade parsial di perbatasan Yaman. Lebih dari dua tahun kemudian, tepatnya pada November 2017, blokade Arab Saudi diperluas ke semua pelabuhan, termasuk Hudaidah, yang lantas menempatkan jutaan Yaman dalam risiko ‘kelaparan terburuk dalam beberapa dasawarsa’. Koalisi menjadikan Hudaidah sebagai langkah pertama untuk merebut kembali ibukota Sanaa dari para pemberontak.

Negara Yaman sudah berjuang melawan ketidakstabilan selama bertahun-tahun dan hampir separuh penduduk hidup di bawah garis kemiskinan. Pada 2015, Yaman menghadapi bencana kemanusiaan lebih lanjut saat koalisi Arab Saudi-UEA melakukan intervensi di negara tersebut. Krisis memburuk ketika pasokan bantuan tersendat di Hudaidah, yang mengirim jutaan penduduk ke jurang kelaparan dan risiko penyakit menular seperti kolera.

Pada tahun 2016, PBB mengatakan bahwa 10 ribu orang telah tewas dalam pertempuran sejauh ini. Sayangnya, organisasi tersebut tidak memiliki data terbaru tentang jumlah korban tewas. Tetapi, dengan terperangkap dalam serangan udara, ladang ranjau, dan semburan jutaan mortir lainnya, diperkirakan makin banyak warga sipil yang telah terbunuh. “Sebagai bukti betapa mengerikannya situasi ini, sekitar 445 ribu orang dari al Hudaidah telah dipaksa melarikan diri sejak Juni,” kata juru bicara pengungsi PBB, Shabia Mantoo, baru-baru ini.

Menurut sumber-sumber , pertempuran untuk mendorong Houthi keluar dari kota itu mencapai jalan-jalan perumahan pada hari Minggu (11/11) kemarin, menciptakan kekhawatiran untuk peningkatan jumlah korban sipil. Tiga hari pertama bentrokan mengakibatkan kematian 149 warga Yaman, termasuk 110 pejuang Houthi, 32 tentara pro-, dan tujuh warga sipil, menurut petugas kesehatan kota tersebut.

Konflik Hudaidah pertama kali terjadi pada tahun 2014, ketika puluhan ribu warga Yaman berdemo di ibukota, Sanaa, didorong keputusan pemerintah untuk memotong subsidi bahan bakar. Mengambil keuntungan dari kerusuhan, pemberontak Houthi lalu menggulingkan Presiden Abd Rabbu Mansour Hadi saat mereka maju ke Sanaa dari markas mereka, Sadaa.

Kemudian, pada 25 Maret, Arab Saudi, memimpin koalisi sembilan negara Afrika dan , termasuk Uni Emirat Arab, melakukan intervensi di negara itu, sementara Iran terus mendukung pemberontakan Houthi. Meskipun membom negara itu selama tiga tahun, koalisi yang didukung Arab Saudi hingga detik ini belum bisa mengusir pemberontak Houthi.

Loading...