Perang Ekonomi, Turki Gugat Otoritas Dolar AS di Pasar Global

Turki Gugat Otoritas Dolar AS di Pasar Global - www.trtworld.comTurki Gugat Otoritas Dolar AS di Pasar Global - www.trtworld.com

ANKARA – Turki menuding telah melancarkan perang ekonomi terhadap mereka dalam sengketa kasus penahanan pendeta evangelis AS, Andrew Brunson. Selain menyerang kebijakan ekonomi Negeri Paman Sam, Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, juga menggugat otoritas dolar AS di pasar global.

Dilansir TRT World, ketika Menteri Keuangan Turki, Berat Albayrak, mengumumkan langkah-langkah untuk membendung penurunan lira, Presiden AS, Donald Trump, menulis lewat Twitter bahwa ia akan menaikkan untuk aluminium dan baja dari Turki. Itu datang setelah penerapan sanksi terhadap dua menteri Turki sebagai pembalasan atas penahanan pendeta evangelis Andrew Brunson. Pendeta itu, yang memimpin sebuah gereja protestan di provinsi barat Turki Izmir, menghadapi tuduhan terorisme.

Mike Pence, wakil presiden AS, juga mengancam Turki dengan sanksi signifikan jika Ankara tidak segera membebaskan Brunson. Penginjil sendiri merupakan bagian penting dari pemilih Amerika yang akan memutuskan apakah Partai Republik dapat mempertahankan dominasi mereka dalam kongres ketika pemilu paruh waktu mendatang di AS.

Banyak pakar dan pejabat Barat yang cenderung menjelaskan masalah keuangan Turki dengan latar belakang masalah ekonomi seperti inflasi tinggi, utang eksternal , dan defisit berjalan. Mereka juga merujuk pada keterlibatan Erdogan dalam kebijakan ekonomi negara dan ‘aturan satu orang’-nya. “Masalah ekonomi ini lebih bersifat politik daripada ekonomi,” kata presiden dewan Halkbank Turki, Suleyman Ozdil.

Di Turki, Erdogan telah berulang kali dipilih sejak 2002 dan telah muncul sebagai suara terkemuka atas nama umat Islam yang menghadapi masalah di Myanmar hingga Palestina dan Jerman. Bertahun-tahun yang lalu, di Davos, Swiss, episode ‘One Minute’ terkenal Erdogan, yang berkaitan dengan kebrutalan Israel di Palestina, membuatnya mendapatkan banyak pengagum, tidak hanya dari kalangan Muslim, tetapi juga dari yang lain. Sekarang, setelah ‘peperangan ekonomi’ dengan AS, Erdogan menantang otoritas greenback di pasar global.

“Kami sedang mempersiapkan diri menjalin perdagangan dengan negara-negara seperti China, Rusia, Iran, dan Ukraina, dengan menggunakan nasional kami,” kata Erdogan, Sabtu (18/8) kemarin. “Jika negara-negara Eropa ingin menyingkirkan ancaman dolar AS ini, kami juga siap melakukan hal yang sama. Kami tidak akan pernah menerima ini ( moneter berbasis dolar AS) yang telah mendeklarasikan perang ekonomi melawan seluruh dunia.”

Ada beberapa analis pasar bebas yang setuju dengannya. Surat kabar top AS menerbitkan artikel yang menegaskan kecurigaan Erdogan terhadap niat Negeri Paman Sam. Editorial Washington Post menulis bahwa penggunaan tarif sebagai senjata politik merupakan pelanggaran norma-norma internasional yang berbahaya.

“Mungkin, seperti yang kita lihat dengan jatuhnya lira, Turki akan memiliki beberapa kesulitan dalam jangka pendek dan menengah. Tetapi, dalam jangka panjang, AS akan membayar (untuk apa yang telah dilakukan terhadap sekutu),” tambah Ozdil. “Kebijakan Washington akan memaksa seluruh dunia untuk bergabung melawannya.”

Namun, di luar munculnya sentimen anti-AS di seluruh benua, perang keuangan AS melawan Turki dapat menciptakan ‘percabangan di luar perbatasan Turki’. Turki tidak hanya memiliki lokasi geopolitik yang penting antara Eropa dan Timur Tengah, tetapi juga terintegrasi secara erat ke dalam sistem ekonomi global. Banyak investor baru-baru ini berinvestasi besar di pasar negara berkembang seperti Turki, dan ketika mereka melarikan diri, itu bisa jatuh di tempat lain dengan cara yang tidak terduga.

Meskipun banyak ekonom dan ahli mengecilkan efek penularan yang mungkin, Tim Lee, seorang ekonom Inggris, memperingatkan bahwa tahun lalu krisis mata uang berbasis Turki dapat menyebar ke seluruh dunia, dimulai dengan pasar negara berkembang. “Ini tidak akan menjadi krisis perbankan, ini akan menjadi krisis pasar keuangan,” kata Lee kepada NYT.

Loading...