Penjualan Rumah di AS Menurun, Rupiah Berakhir Naik

Rupiah - kabar.newsRupiah - kabar.news

JAKARTA – mampu memanfaatkan pelemahan yang dialami dolar AS, imbas menurunnya penjualan rumah tunggal di Negeri Paman Sam, untuk bergerak menguat pada Kamis (25/10) sore. Menurut Index pada pukul 15.56 WIB, mata uang Garuda berakhir naik 10 poin atau 0,07% ke level Rp15.187 per dolar AS.

Sementara itu, Bank siang tadi menetapkan kurs tengah berada di posisi Rp15.210 per dolar AS, terdepresiasi 17 poin atau 0,11% dari perdagangan sebelumnya di level Rp15.193 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mata uang Asia variatif terhadap , dengan kenaikan tertinggi sebesar 0,19% dialami yen Jepang dan pelemahan terdalam sebesar 0,54% menghampiri won Korea Selatan.

Dari , indeks dolar AS terpantau bergerak melemah pada hari Kamis, dipicu kinerja buruk saham Wall Street menyusul laporan yang mengatakan penjualan rumah di AS sepanjang September turun ke level terendah dalam dua tahun. Mata uang Paman Sam terdepresiasi 0,162 poin atau 0,17% menuju level 96,272 pada pukul 11.01 WIB.

Seperti diberitakan CNBC, di bursa Wall Street, saham S&P 500 turun untuk hari keenam berturut-turut karena perkiraan yang lemah dari produsen chip menambah kekhawatiran tentang dampak dari tarif dan perlambatan ekonomi . Sentimen negatif lainnya datang dari data penjualan rumah keluarga tunggal AS yang jatuh ke level terendah dalam dua tahun pada bulan September 2018, mengisyaratkan kenaikan suku bunga hipotek dan yang tinggi telah menurunkan permintaan.

Berbanding terbalik dengan dolar AS, penurunan saham Wall Street dan penjualan rumah di AS membuat yen Jepang bergerak menguat pada hari ini karena investor bergegas memburu aset safe haven, termasuk obligasi pemerintah. Yen telah menguat selama tiga hari terakhir dan diperdagangkan di posisi 112,06 terhadap dolar AS pada hari Kamis.

“Penguatan yen selama tiga hari terakhir sebagian merupakan cerminan dari lonjakan permintaan untuk aset safe haven, sebagai akibat dari pelemahan saham global dan meningkatnya volatilitas,” terang analis pasar di CMC Markets di Singapura, Margaret Yang. “Di dalam negeri, manufaktur Jepang yang menguat mendukung yen, dibandingkan dengan turunnya angka penjualan rumah baru di AS.”

Loading...