Penjualan Ritel AS Naik, Rupiah Tetap Menguat

Rupiah - m.harianjogja.comRupiah - m.harianjogja.com

JAKARTA – Rupiah sanggup mempertahankan posisi di teritori hijau pada Rabu (17/6) sore, meski penjualan ritel AS menunjukkan lonjakan tajam sepanjang Mei 2020, di tengah wabah . Menurut laporan Index pada pukul 14.58 WIB, Garuda menguat tipis 7 poin atau 0,05% ke level Rp14.083 per dolar AS.

“Penguatan rupiah didukung oleh sentimen rencana penggelontoran stimulus oleh The Fed dan Presiden AS, Donald Trump,” ujar Direktur TRFX Garuda Berjangka, Ibrahim, disalin dari Bisnis. “ itu berencana membeli korporasi di sekunder, memperluas pembelian surat sebagai bagian dari skema stimulus yang telah diumumkan sebelumnya.”

Sementara itu, data yang diterbitkan pagi tadi menetapkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) berada di posisi Rp14.234 per dolar AS, melemah 79 poin atau 0,56% dari perdagangan sebelumnya di level Rp14.155 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mata uang Asia juga tidak berdaya melawan greenback, dengan pelemahan terdalam sebesar 0,85% dialami won Korea Selatan.

Dari pasar , indeks dolar AS sempat bergerak lebih tinggi pada hari Rabu, didukung rekor kenaikan penjualan ritel AS pada bulan Mei 2020 setelah mengalami penurunan dua bulan beruntun, sekaligus memperkuat optimisme bahwa berangsur pulih. Mata uang Paman Sam menguat 0,035 poin atau 0,04% ke level 96,993 pada pukul 11.19 WIB, namun kembali drop di sore hari.

Departemen Perdagangan AS pada Selasa (16/6) waktu setempat mengumumkan penjualan eceran di negara tersebut meningkat 17,7% sepanjang bulan lalu, yang mungkin menandakan bahwa perekonomian sudah mulai membaik di tengah pandemi COVID-19. Data penjualan ritel mengikuti laporan awal bulan ini yang menunjukkan tercipta 2,5 juta pekerjaan tak terduga pada bulan Mei.

Meski demikian, tanda-tanda kerusakan ekonomi yang disebabkan pandemi masih tampak, karena tingkat penjualan antara bulan Maret, ketika gangguan perekonomian dimulai, dan bulan Mei turun 10,5% dibanding periode yang sama tahun lalu. Gubernur The Fed, Jerome Powell, juga melukiskan gambaran yang agak suram dari ekonomi AS setelah pandemi virus corona.

“Powell terdengar sangat negatif di sini, namun saya pikir dia realistis,” tutur pedagang mata uang di Tempus Inc. di Washington, Juan Perez, dilansir CNBC. “Dolar AS memperoleh sedikit kenaikan hanya karena ketidakpastian yang disebutkan Powell. Sepertinya, para pejabat moneter sedang bersiap untuk resesi lebih lama lagi bagi ekonomi AS.”

Loading...