Peningkatan Anggaran Militer Ancam Keutuhan ASEAN

Ketika pertama kali didirikan, bertujuan untuk mengamankan perdamaian regional melalui konstelasi antar- Asia Tenggara, seperti Asia-Pacific Economic Cooperation meeting, ASEAN Regional Forum, dan East Asia Summit and the ASEAN Defense Ministers’ Meeting-Plus. Namun, ASEAN kini sekarang sedang dirusak oleh perpecahan internal dan ketegangan regional disertai dengan kekhawatiran peningkatan kekuatan militer masing-masing anggota.

“Peningkatan anggaran militer di ASEAN saat ini merupakan suatu anomali,” ujar Dosen di Institute of Security and International Studies di Chulalongkorn University Bangkok, Thitinan Pongsudhirak. “Padahal satu generasi lalu, pengadaan kekuatan militer di ini lebih difungsikan sebagai kekayaan baru dan pembangunan ekonomi.”

Dicontohkan Pongsudhirak, yang saat ini mengklaim China Selatan dengan melawan China, telah menghabiskan anggaran delapan kali lebih banyak untuk pengadaan senjata di rentang 2011-2015 dibandingkan lima tahun sebelumnya, termasuk membeli kapal selam. Vietnam juga mengembangkan sektor energi nuklir yang akan berfungsi pada tahun 2020 sekaligus mengantarkan ASEAN ke era nuklir.

“Sementara, yang baru saja memenangkan putusan internasional dari pengadilan terhadap klaim China atas Laut China Selatan melengkapi skuadron mereka dengan memesan beberapa unit dari ,” sambungnya. “Meski Rodrigo Duterte memproyeksikan sikap lembut kepada Beijing, mau tidak mau harus meningkatkan kemampuan militernya untuk lebih melindungi kepentingan maritim.”

Adapun Singapura, ditambahkan Pongsudhirak, sebagai negara kaya telah menghabiskan lebih banyak dana untuk sektor pertahanan daripada negara tetangganya. Bahkan Thailand, sebuah nonclaimant di Laut China Selatan, sekarang menginginkan tiga kapal selam di perairan dangkal Teluk Thailand.

“Di sisi lain, negara-negara besar seperti AS, China, dan Jepang telah berkeliaran di wilayah ini,” tambahnya. “Padahal, hal tersebut tidak pernah mereka lakukan sebelumnya.”

Dengan kondisi seperti ini, ASEAN memang rentan mengalami konflik militer, baik antar-sesama negara anggota maupun dengan negara lain. “Penumpukan senjata di ASEAN bersama dengan perpecahan internal dan ketegangan dengan China adalah kombinasi yang mudah terbakar,” tutup Pongsudhirak.

Loading...