Penguatan Dolar Terbatas, Rupiah Hijau di Akhir Pekan

Rupiah - tirto.idRupiah - tirto.id

Rupiah mampu memanfaatkan penguatan terbatas untuk bergerak naik ke teritori hijau pada Jumat (22/2) sore, di tengah kemajuan pembicaraan perdagangan AS dengan China. Menurut paparan Index pada pukul 15.57 WIB, mata uang Garuda menguat 13 poin atau 0,09% ke level Rp14.057 per AS.

Sementara itu, Bank Indonesia siang tadi menetapkan kurs tengah berada di posisi Rp14.079 per dolar AS, terdepresiasi 22 poin atau 0,15% dari perdagangan sebelumnya di level Rp14.057 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang Asia juga takluk versus , dengan pelemahan terdalam sebesar 0,18% menghampiri baht Thailand.

Dari pasar global, imbal hasil obligasi AS yang lebih tinggi mendukung gerak greenback pada hari Jumat, sementara dolar Australia stabil setelah komentar bank sentral yang optimistis dan meredakan kekhawatiran tentang larangan China pada impor batubara Australia. Mata uang Paman Sam terpantau menguat tipis 0,016 poin atau 0,02% menuju level 96,621 pada pukul 13.07 WIB.

Seperti diberitakan Reuters, dolar AS bergerak naik ketika imbal hasil Treasury AS jangka panjang melonjak ke level tertinggi satu minggu di tengah berita kemajuan dalam pembicaraan perdagangan AS-China. Namun, kenaikan greenback terbatas setelah data ekonomi terbaru tidak cukup menggembirakan, termasuk penurunan dalam pesanan barang modal inti dan rumah yang lemah.

Pada Kamis (21/2) waktu setempat, dilaporkan bahwa pesanan di pabrik-pabrik AS untuk peralatan bisnis secara tak terduga turun pada bulan Desember 2018, penurunan keempat dalam lima bulan. Hal ini menunjukkan hilangnya momentum di tengah ketidakpastian soal perang dagang dengan China dan kondisi yang lebih ketat.

Departemen Perdagangan AS mengumumkan, pesanan untuk barang-barang non-pertanian selain pesawat terbang, yang menjadi indikator rencana belanja bisnis, melorot 0,7%. Sementara, sektor pabrik Atlantik Tengah AS turun ke teritori kontraksi pada bulan Februari 2019, untuk pertama kalinya sejak Mei 2016, menurut data Philadelphia.

“Pasar mata uang sedang memasuki fase ketika menjadi sedikit mati rasa terhadap perkembangan politik seperti pembicaraan perdagangan AS-China dan Brexit,” kata manajer umum di Gaitame.com Research, Takuya Kanda. “Ini kembali ke fundamental, terutama untuk dolar AS, dengan setiap rilis data hingga laporan gaji non-pertanian minggu depan cenderung perlahan membangun petunjuk arah.”

Loading...